Tuesday, 23 June 2009

Para Penggila Buku : Seratus Catatan di Balik Buku

Judul : Para Penngila Buku - Seratus Catatan di Balik Buku
Penulis : Diana AV.Sasa & Muhidin M. Dahlan
Penerbit : i: boekoe (indonesia Buku)
Cetakan : 2009
Tebal : Hardcover, 667 hlm ; 24 cm

Sadarkah kita jika buku ternyata tak sekedar berbicara tentang apa yang terkandung di dalamnya. Dunia buku ternyata begitu luas dan kaya, bagaikan sebuah mata air yang tak pernah kering, kisah-kisah dibalik dunia buku selalu mengalir, memberikan kesegaran, dan memberi inspirasi baru bagi mereka yang selalu haus akan buku dalam hidup mereka. Namun kisah-kisah dibalik dunia buku itu harus dicari, ditelisik, diwartakan, agar semua penggila buku tahu bahwa dunia yang mereka geluti setiap harinya itu ternyata memiliki banyak kisah yang menarik dan tak terduga.

Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa, adalah sedikit diantara para penggila buku yang mau berjerih lelah mencari kisah-kisah luar biasa dibalik buku. Muhidin yang kerap disapa Gus Muh adalah novelis, essais, kerani i:boekoe (Indonsia buku) yang hingga kini telah memiliki 3000-an buku di kamarnya. Sedangkan Diana AV Sasa adalah, aktivis buku yang juga kerap menulis essai tentang dunia buku di Koran Jawa Pos. Duo penggila buku inilah yang akhirnya memproklamirkan kegilaannya akan buku dengan membuat 100 catatan di balik buku dan membukukannya ke dalam sebuah buku dengan cover bersampul tebal yang kokoh dan menarik.

Selama kurang lebih tujuh bulan, dengan modal beberapa catatan yang sudah pernah mereka buat baik untuk konsumsi dunia cyber maupun media cetak, akhirnya mereka berhasil mengumpulkan dan menulis 98 catatan tentang dunia buku, dan 2 catatan tentang profil mereka masing-masing. Ke 100 catatan itu dibaginya dalam delapan bagian besar yaitu : Kisah Buku, Klub Buku, Musuh Buku, Guru Buku, Revolusi Buku, Film Buku, Rumah Buku, dan Tokoh Buku.

Dari delapan bagian besar tersebut kita akan mengetahui bagaimana ternyata sejarah perbudakan Indonesia itu berawal dari skandal buku, lalu bagaimana di zaman demokrasi terpimpin politik menjadi panglima buku sehingga pameran-pameran buku di zaman itu dijadikan arena adu ideologi baik melalui buku-buku yang dipamerkan maupun melalui poster-poster yang terdapat di stand-stand yang tersedia. Kebalikan dari itu kita juga akan diajak mencermati bagaimana di tahun 2000 an tema syahwat begitu dominan dan menjadi salah satu pentas menarik dalam perbukuan di Indonesia.

Kecintaan seseorang akan membaca juga membuat para pembaca buku berusaha mencari komunitas-komunitas buku, maka lahirlah Klub-Klub Buku. Di kota Zurich, Switzerland, ada Klub Baca James Joyce yang setiap pekannya dengan tekun membaca dan mendiskusikan novel bantal ‘Ullyses’ kalimat perkalimat, selama 3 tahun!. Jika kita terkagum-kagum dengan kebesaran koleksi perpusatakaan Harvard, maka buku ini mengajak kita berkenalan dengan George Parker Winship, pendiri klub buku Harvard Fine Arts 5e. Ia mengajarkan bagaimana memiliki dan menghasilkan buku-buku bagus. Melatih kepekaan selera anggotanya untuk membeli buku dari sisi kelangkaan dan keindahannnya, menjadikan koleksi buku sebagai sebuah aktivitas berkelas sehingga akhirnya anggota klub ini dapat dengan cemerlang memahami latar belakang sejarah dan kondisi zaman ketika sebuah buku diterbitkan.

Di bagian Musuh Buku kita akan diajak melihat bagaimana kekuatan api dan tiran bahu membahu untuk menghancurkan buku yang tidak disukai oleh rezim tertentu dari zaman ke zaman, yang paling tua adalah perpustakaan Alexandria yang hancur lebur dimakan api pada 640 SM. Ada banyak versi kisah yang menyatakan siapa sebenarnya pembakar perpustakaan ini dan hingga kini masih diperdebatkan. Terlepas dari siapa pelakunya, peristiwa pembakaran Perpustakaan Alexandria adalah sebuah peristiwa penghilangan bukti sejarah terbesar yang pernah ada. Pembakaran buku oleh rezim tertentu tampaknya telah menjadi budaya bagi orang-orang yang ingin melanggengkan tirani. Mereka menganggap buku sebagai sebuah ancaman.

Membaca erat kaitannya dengan menulis buku, para pembaca akut biasanya memiliki keinginan untuk menulis buku sehingga namanya tertoreh di cover depan buku karyanya. Karenanya buku ini membahas beberapa buku yang berhubungan dengan proses membaca dan menulis , mulai dari karya klasik Arswendo, “Mengarang Itu Gampang” hingga buku-buku terbaru seperti Quantum Reading, Quantum Writing, Speed Reading, Chicken Soup for The Writer Soul, dan lain-lain yang semuanya mengetengahkan bagaiman membaca dan menulis adalah dua hal yang saling bersisian dan bisa dipelajari lewat berbagai buku sehingga siapapun bisa melakukannya.

Di bagian Revolusi Buku muncul beberapa tulisan menarik, antara lain bahasan bahwa di era cyber ini buku telah mengalami revolusi, kehadirannya tak hanya berupa teks yang dicetak diatas kertas, namun telah berevolusi menjadi serba elektrik, sehingga lahirlah audio book dan e-paper. Tak hanya bentuk buku yang berevolusi jalur-jalur pendistribusian buku pun ikut berubah, ada toko buku onlen, perpustakaan onlen, Print on Demand, dan lainnya. Jika buku berevolusi, penulis resensipun ikut berrevolusi, mereka kini tak hanya berlomba menulis agar dimuat di media cetak, kini para peresensi memiliki lahan baru untuk membagikan apa yang telah mereka baca secara jujur dan apa adanya, merekalah yang disebut dengan Bloger Buku.

Ternyata kisah dalam sebuah buku tak hanya dapat dibaca, banyak film-film yang menjadikan buku sebagai latar cerita. Buku ini mencatat dan memberikan resensi 7 buah film yang merupakan adaptasi dari sebuah buku, mulai dari Fahrenheti 451, Il Postino, Finding Forester, Quills hingga film Indonesia, Gie. Selain film buku penulis juga menyertakan 18 catatan mengenai Rumah Buku, yaitu perpustakaan. Berbagai kisah kelam tentang kondisi perpustakaan di Indonesia akan terungkap termasuk nasib perpustakaan di kampung halaman SBY yang dikenal sebagai presiden yang gemar sekali membaca.

Sebagai penutup buku ini mencatat pula tentang para penggila buku buku baik dari mancanegara maupun tokoh buku Indonesia. Bukan hanya tokoh-tokoh besar di dunia buku seperti Antonio Magliabechi yang hidup dan mati demi buku, atau konributor kamus Oxford, William Chester Minor yang ternyata seorang gila, namun ada juga kisah Blumberg, si bandit buku, dimana ia berhasil mencuri 23.600 buku dari 268 perpustakaan di 45 negara bagian, 2 propinsi di Kanada dan Colombia. Jika dinilai dengan uang, maka hal tersebut setara dengan $20 juta ! Lalu ada juga kisah Frank J. Hogan yang uangnya ludes karena terus membeli sejumlah buku. Karena hasratnya untuk membeli buku tak pernah reda ia rela berhutang ke bank demi memperoleh buku.

Sedangkan untuk penggila buku tanah air, kita akan diajak berkenalan dengan Bung Hatta, Harry Kunto, Oie Hiem whie, Taufik Rahzen, Kiswanti, Dauzan Farouk, Pramoedya AT, Omi Intan Naomi yang begitu mencintai dan mengerti akan arti sebuah buku dalam hidupnya. Mereka berdiam di balik buku itu menyimpan banayak rahasia besar akan cita-cita kebesaran sebuah bangsa.

Selain semua hal diatas, diantara rimbunan catatan dalam buku ini satu hal yang menarik bagi saya adalah munculnya ide-ide gila dari penulisnya untuk memajukan dunia buku tanah air, misalnya ide Kantor Pos sebagai jalur distribusi buku, TV Buku, Kapal Buku, dll. Tentunya hal ini bukan sekedar angan-angan karena penulis juga menyertakan argumennya bahwa semua itu sangat mungkin dilakukan.
D
emikianlah apa yang terdapat dalam buku ini, saking banyaknya catatan yang terdapat dalam buku ini, tampaknya bukan pada tempatnya saya untuk membahasnya satu persatu secara detail. Namun walau kedua penulisnya telah merawi 100 catatan mengenai dunia buku, masih saja ada yang luput dari pengamatan mereka misalnya tentang dunia resensi buku, majalah buku, dan buku-buku yang dilarang. Jika semua hal tersebut muncul akan semakin lengkaplah isi dari buku ini. Beberapa kesalahan data dan kesalahan cetak juga terdapat dalam buku ini, hal tersebut semakin meyakinkan saya bahwa buku-buku terbitan i:boekoe memang lemah dalam hal editing. Semoga ke depan hal ini bisa lebih dicermati.

Akhir kata dengan membaca buku yang ditulis dengan kalimat-kalimat yang renyah dan enak dibaca oleh dua orang penggila buku ini kita akan diajak melihat semua pernak-pernik dalam dunia buku, wawasan kita akan terbuka bahwa dunia di balik buku itu begitu luas dan kaya, buku menyimpan berbagai kisah menarik yang tak habis-habisnya untuk diceritakan.

Selain itu jika kita mencermatinya lebih dalam lagi ternyata apa yang terdapat dalam buku ini juga menyimpan catatan penting tentang dunia perbukuan tanah air sehingga buku ini sangat layak dikoleksi dan dimiliki oleh para praktisi dan pemerhati dunia buku Indonesia.

Buku yang dikemas dengan kokoh, bersampul tebal, desain cover yang menarik dan dicetak secara terbatas dengan system POD (Print on Demand) ini memang membuat buku ini menjadi relatif mahal. Perlu dua lembar uang bergambar Soekarno-Hatta agar bisa memiliki buku ini. Mengapa demikian mahal ? Tentunya penerbit memiliki alasan sendiri dalam hal ini. Yang pasti penjualan buku-buku terbitan I; boekoe (Indonesia Buku) rencananya akan disumbangkan untuk pembangunan sejumlah taman bacaan. Salah satu yang sudah terealisasi adalah tama bacaan di Pacitan yang akan dibuka pada bulan Juli nanti.

@h_tanzil

Tuesday, 16 June 2009

The Missing Rose

Judul : Mawar yang Hilang
Judul Asli : The Missing Rose
Penulis : Serdar Ozkan
Penerjemah : Rosemary Kesauli
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Mei, 2009
Tebal : 221 hlm

Coba bayangkan, bagaimana jika tiba-tiba kita diberitahu oleh orang tua kita bahwa sesungguhnya kita memiliki saudara kembar yang saat ini keberadaannya tidak kita ketahui. Tentunya kita akan kaget setengah mati dan berusaha untuk bertemu dengan saudara kembar kita.

Hal inilah yang dialami oleh Diana, wanita muda mahasiswa hukum tingkat akhir yang cerdas dan cantik. Ia tinggal di kota Metropolitan, San Francisco bersama ibunya. Dalam hal materi ia tak pernah kekurangan, baginya popularitas adalah segalanya, karenanya ia melakukan segala cara agar ia memperoleh banyak teman, mendapat pujian, dan populer di lingkungan kampusnya.

Namun dibalik kesuksesan yang diraihnya, ada satu hal yang harus ia korbankan, yaitu cita-citanya untuk menjadi penulis. Menurut anggapan orang-orang di sekitarnya menjadi seorang pengacara tentunya lebih cepat terkenal dan popular dibanding menjadi seorang penulis. Hal inilah yang membuat dirinya menekan keinginannya. Kebutuhannya untuk mendapat popularitas dan pujian dari teman-temannya lebih diutamakan. Ia harus memenuhi keinginan teman-temannya agar bisa diterima diantara mereka, lambat laun ia merasa tak nyaman karena tak mampu menjadi dirinya sendiri.

Suatu saat ketika ibunya meninggal karena sakit, Diana membaca sebuah surat yang ditulis oleh ibunya untuk dirinya. Melalui surat itu barulah diketahui bahwa sebenarnya ia memiliki saudara kembar yang bernama Mary yang tinggal bersama ayahnya semenjak kedua orang tuanya bercerai ketika Diana masih berusia satu tahun. Dalam surat tersebut ibunya menulis bahwa Mary kini sedang dalam bahaya dan meminta Diana untuk menemukan dan menyelamatkannya.

Tak ada petunjuk apapun dalam mencari Mary selain surat-surat Mary yang ditujukan pada ibunya. Itupun bukan hal yang mudah karena semua surat yang dikirimkan Mary pada ibunya selalu tak menyertakan alamat si pengirim. Dalam surat-suratnya Mary hanya menceritakan kerinduannya untuk bertemu dengan ibunya dan perjalanannya ke sebuah taman mawar di Istanbul di mana dia belajar berbicara dengan mawar. Berbicara dengan mawar ? Apakah Mary sudah gila? Hal itulah yang membuat Diana khawatir, apalagi dalam sebuah suratnya terungkap keinginan Mary untuk melakukan bunuh diri.

Kekhawatirannya akan keselamatan saudara kembarnya, dan pesan terakhir dari ibunya membuat Diana bertekad mencari saudara kembarnya. Berbekal surat itu, Diana mencoba menapaktilasi perjalanan Mary hingga ke Istanbul, tempat Mary belajar berbicara dengan mawar. Perjalanannya ini kelak akan membawanya pada sebuah penemuan tak terduga yang juga akan membawanya pada penemuan jati dirinya yang selama ini hilang karena selalu melakukan apa yang diinginkan orang lain demi mengejar popularitasnya.

Perjalanan Diana mencari saudara kembarnya di atas adalah kisah yang terdapat dalam novel The Missing Rose karya penulis Turki, Serdar Ozkan. Walau merupakan novel perdananya, novel ini langsung menjadi novel best seller dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.

The Missing Rose mendapat apresiasi yang baik dari pembacanya karena novel ini memang indah, menyentuh, dan menggugah kesadaran pembacanya akan pencarian jati diri. Jika kita membaca novel ini, kita akan melihat bahwa gaya berututur Ozkan hampir mirip dengan penulis novel inspiratif asal Brazil, Paulo Coelho.

Tak banyak tokoh yang muncul dalam novel ini, sehingga pembaca seolah diajak untuk lebih fokus pada kisah pencarian Diana untuk menemukan saudara kembarnya. Bagian yang paling menarik tentu saja ketika Diana sampai di Istanbul, dimana akhirnya ia menemukan Zeynep Hanim, wanita pemilik taman mawar yang pernah mengajari Mary berbicara pada mawar.

Betapa gembiranya Diana ketika diketahui bahwa kedatangannya ke Istanbul sangat tepat, karena Zaynep Hanim mengatakan bahwa ia telah menerima kabar dari Mary yang juga berencana mengunjungi taman mawar pada saat itu. Sambil menunggu kedatangan saudara kembarnya Diana pun melakukan hal yang sama yang pernah dilakukan Mary, ia belajar mendengar dan berbicara pada mawar.

Di bagian inilah pembaca akan dibawa pada dialog-dialog filosofis yang penuh dengan makna. Dengan dibimbing oleh Zeynep Hanim, Diana mencoba belajar dari mawar. Ia disadarkan bahwa apa yang dilakukannya untuk mengejar popularitas dan mendapat sanjungan dari orang lain membuat dirinya tidak bahagia karena tidak menjadi dirinya sendiri .

Diana kini mengerti bahwa menjadi dirinya sendiri adalah hal yang paling istimewa dan membahagiakan dalam hidup setiap orang. Sayangnya selama ini ia tidak memahami hal itu. Untuk meraih kebahagiaan ia selalu membutuhkan hal lain seperti perhatian, pujian, atau apa saja yang bisa membuat dirinya istimewa. Selama ini ia tidak bisa hidup jika tidak ada yang mengaguminya sehingga ia menjadi Diana dalam pandangan ‘yang lain’, sampai-sampai ia menekan impian terbesarnya untuk menjadi penulis agar cepat meraih popularitas dan disukai lingkungannya.

Demikian akhirnya kisah yang Diana dalam dalam novel ini memang pada akhirnya akan menggugah kesadaran kita, tanpa kita sadari mungkin perjalanan hidup dan cita-cita kita bukan lagi berdasarkan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang dikatakan orang lain.

Adalah sesuatu yang normal dan manusiawi jika kita berharap untuk dikagumi dan diterima oleh orang-orang di sekeliling kita, namun janganlah hal itu menjadi obsesi yang membabi buta sehingga kita menjadi begitu khawatir kalau perilaku dan cita-cita kita membuat kita dijauhi oleh orang lain. Akibatnya kita menjalani kehidupan yang dipilih orang lain untuk kita, bukan kita yang memilih jalan hidup kita sendiri melainkan orang lain. Apakah ini normal?

Marilah kita mendengar apa kata mawar tentang dirinya :

Menjadi mawar berarti ‘merdeka’. Artinya keberadaanku tidak tergantung pujian Yang Lain dan aku juga tidak akan punah kalau mereka tidak menyukaiku. Jangan salah tangkap; aku juga menyukai orang banyak. Aku ingin mereka mengunjungiku dan menghirup wangiku. Tapi aku hanya menginginkan hal itu sayapa aku bisa membagikan keharumanku. (hal 167)

Tentang Penulis :

Serdar Ozkan

Serdar Ozkan adalah penulis muda asal Turki (34 thn) yang pernah mengenyam pendidikan di Marketing and Psychology at Lehigh University in Pennyslvania, Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan studinya di Amerika ia pulang ke Turki dan melanjutkan studinya di Psychology at Istanbul's Bosphorous University.

Sejak Tahun 2002, ia memutuskan untuk menjadi seorang penulis, novel pertamanya The Missing Rose (2006) langsung menuai sukses dan mendapat apresiasi dari pembaca di berbagai negara. Novel tersebut kini telah diterjemahkan lebih dari 25 bahasa dunia. Dengan demikian Serdar Ozkan merupakan tiga novelis Turki dalam sejarah liturearut Turki yang karyanya paling banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia setelah Orhan Pamuk dan Yasar Kemal.

Beberapa pengamat berpendapat bahwa The Missing Rose adalah novel indah yang menyentuh dan mengispirasi pembacanya, dan merupakan kombinasi dari mistisme Sang Alkemis nya Paulo Coelho, novel liris Jonathan Livingston Seagull, dan keajaiban The Little Prince.

@h_tanzil