Monday, 16 November 2009

Oeroeg - Hella S. Haasse

No. 228
Judul : Oeroeg
Penulis : Hella s.Haasse
Penerjemah : Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Oktober 2009
Tebal : 144 hlm

Oeroeg adalah sebuah novel klasik karya sastrawan Belanda, Hella S. Haasse. Walau novel ini ini untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bahasa Belanda pada tahun 1948 namun baru kali ini Oeroeg diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Peluncuran terjemahan novel ini beberapa bulan yang lalu merupakan bagian dari kampanye Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia dalam rangka The Netherland Read, yang berlangsung hingga 20 November 2009.

The Nedherland Read adalah kampanye buku-buku Belanda yang telah berlangsung sejak 2006. Tiap tahunnya satu buku karya penulis terkenal dipilih untuk disebarkan gratis kepada khalayak, dibaca, dan bila mungkin didiskusikan bersama. Tahun ini buku yang terpilih adalah Oeroeg karya Hella S Haass, penulis Belanda yang lahir dan dibesarkan di Indonesia sebelum masa kemerdekaan RI. Novel Oeroeg ini adalah novel pertamanya yang terbit tahun 1948.

Dalam novelnya ini Hella mengungkapkan bahwa Oeroeg adalah laporan pencarian jejak masa lalu tokoh ‘aku’, laki-laki muda berkebangsaan Belanda yang pada tahun 1947 mengenang kembali masa kanak-kanak hingga remajanya di Indonesia dan persahabatannya dengan seorang laki-laki Indonesia sebayanya yang bernama Oeroeg.

Bagi tokoh ‘aku’ Oeroeg adalah sahabat sejatinya, bagian dari masa kanak-kanaknya. Oeroeg dan tokoh aku dikisahkan selalu bersama dalam setiap tahap perkembangan, mulai dari anak-anak hingga lelaki muda. Bisa dikatakan kehidupan Oeroeg dan tokoh ‘aku’ begitu melekat bagaikan sebuah segel walau mereka sebenarnya terpisahkan oleh jurang strata sosial pada masa itu.

Tokoh aku adalah putra tunggal seorang administrateur di perkebunan Kebon Jati di pedalaman pegunungan Priangan, Sukabumi Jawa Barat, sedangkan Oeroeg adalah putra sulung mandor tempat dimana ayah si aku bekerja sebagai administraterur. Sebagai balas jasa atas ayah Oeroeg yang meninggal karena menyelamatkan tokoh aku, maka Oeroeg disekolahkan hingga ke tingkat MULO
Rupanya tempat yang terpencil dan kurangnya kedekatan antara tokoh Aku dengan kedua orang tuanya maka terbentuklah persahabatan antara tokoh aku dengan Oeroeg. Hanya dengan Oeroeglah ia dapat bermain dan menemukan penghiburan. Bahkan bahasa Sunda menjadi bahasa yang lebih akrab baginya dibanding bahasa Belanda.

Kesadaran akan adannya perbedaan diantara mereka mulai nampak ketika akhirnya hubungannya dengan Oeroeg menimbulkan cemoohan dan penolakan diantara orang-orang disekitarnya, terutama cemoohan yang dialamatkan pada Oeroeg. Namun walau demikian persahabatan mereka tetap berlanjut.
Semakin mereka dewasa, mereka semakin menyadari bahwa mereka memang berbeda. Oeroeg kini menyadari bahwa ia hanyalah seorang inlander sedangkan sahabatnya orang Eropa. Oeroeg sadar bahwa dirinya banyak mengalami penolakan dari orang-orang Belanda. Pada masa itulah jarak antara Oeroeg dan tokoh aku muncul,. Oeroeg mau tidak mau memasukkan sahabatnya sebagai golongan Eropa yang menolaknya.

Perbedaan diantara mereka semakin kentara setelah Oeroeg menjadi pemuda revolusioner yang menolak kerjasama dengan pemerintah Belanda yang notabene merupakan golongan sahabatnya sendiri. Namun walau demikian mereka tetap saling kontak dan persahabatan mereka walau tak seakrab dahulu namun mereka tetap saling berhubungan satu dengan lainnya hingga akhirnya tokoh aku harus berangkat ke Eropa untuk menyelesaikan studinya.

Saat ia bersekolah di Belanda, hubunga mereka terputus juga hingga akhirnya ia lulus dan kembali ke Hindia. Sepulang dari Eropa, tokoh Aku mencari sahabatnya, kebetulan ia kini dipekerjakan pada perbaikan jembatan-jembatan di Priangan yang dirusak oleh pejuang-pejuang Republik. Sebuah tugas membawanya ke tempat dimana ia melewati masa kecilnya bersama Oeroeg. Kesempatan ini dipakainya untuk mencari sahabatnya. Akankah Oeroeg berhasil ditemuinya?

Novel Oeroeg yang menceritakan lika liku persahabatan antara bocah pribumi dan anak andministratur Belanda ini ditulis oleh Hella S. Haase, (91 tahun) pada saat ia masih berusia 30 tahun dan merupakan novel perdananya yang akan mengangkat namanya sebagai penulis Belanda kenamaan.

Hella sendiri adalah penulis Belanda kelahiran Batavia pada 2 Februari 1918, Ibunya adalah seorang pianis bernama Katherina Diehm-Winzenhohler dan ayahnya seorang inspektur
keuangan pemerintahan kolonial Belanda bernama Willem Hendrik Haasse. Lewat
pekerjaan ayahnya inilah maka Hella yang lahir di Batavia dan melewatkan masa kanak-kanak hingga remajanya di Hindia hafal betul bagaimana suasana kehidupan di Hindia.

Karena novel ini dibangun sebagian besar berdasarkan kesan dan pengalaman Hella dan pengalaman masa remajanya di Indonesia maka tak heran jika dalam novelnya ini Hella mendeskripsikan suasana alam, kehidupan keluarga Belanda dan pribumi, rumah-rumah penduduk pribumi dan belanda dengan begitu detail dan memikat.

Begitu detailnya Hella mendeskripsikan latar ceritanya sehingga kita seolah-olah melihat sendiri apa yang digambarkan oleh Hella, jika kita tak mengetahui siapa penulisnya mungkin kita akan menyangka bahwa novel ini ditulis oleh penulis lokal. Cara betutur Helle dalam novel ini juga enak dinikmati sehingga mampu membawa pembacanya menyelami situasi Indonesia di zaman itu.

Ketika novel ini ditulis situasi politik antara Indonesia dengan Belanda sedang dalam keadaan kritis yang akan memuncak di agresi militer Belanda II atas Indonesia pada 1948 dan konflik ini akan berimbas pada kisah persahabatan Oeroeg dalam novel ini dimana sikap sebagian besar masyarakat Indonesia begitu membenci terhadap orang-orang Belanda.

Dalam hal penokohan karakter, karena tokoh Aku merupakan si pencerita maka apa yang dialami, dirasakan oleh si pencerita tereksplroasi dengan dengan baik, konsekuensinya kedalaman karakter oeroeg menjadi kurang tereksplorasi, misalnya bagaimana proses perubahan Oeroreg saat akhirnya tertarik dengan gerakan pemuda revolusioner. Jika saja Helle mengeksplorasi hal ini tentunya novel ini akan semakin menarik karena dapat melihat dari kedua sisi bagaimana akhirnya persahabatan mereka mulai berubah akibat perubahan watak Oeroeg.

Novel yang kental dengan aroma persahabatan yang terusik karena perbedaan ras dan pengaruh dari situasi politik di kehidupan tokoh-tokoh daam novel ini pada akhirnya akan membawa pembaca pada sebuah perenungan akan arti sebuah persahabatan.

Dengan indah Hella mengakhiri novel pendeknya ini dengan berbagai pertanyaan yang timbul dari benak si penceritanya (tokoh aku) sehingga setelah membaca habis novel ini pembaca akan diajak merenung dan mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan itu. Dan yang pasti melalui novel ini kita akan disadarkan bahwa persahabatan sejati pada akhirnya tak akan mungkin dipisahkan karena perbedaan ras, ideologi, perang, bahkan sebuah revolusi sekalipun.

Kedalaman pesan, dan setting Hindia Belanda di tahun 30-40an yang selama ini dianggap eksotis bagi warga dunia, khususnya orang Belanda tampaknya membuat novel ini menjadi novel klasik dunia dan akhirnya menarik perhatian para sineas Belanda untuk memfilmkannya pada tahun 1993 dengan judul yang sama dengan novelnya “Oeroeg” yang beberapa tokohnya diperankan oleh aktor/artis Indonesia yaitu Adi Kurdi, Ayu Azhari, dan Jose Rizal Manua.

Karena media buku dan film berbeda, tentunya ada banyak tambahan-tambahan kisah dalam film untuk mendramatisir kisahnya yang tidak ada dalam bukunya. Ada juga yang menilai bahwa film Oeroeg terkesan lebih bernuansa politis dibanding novelnya yang lebih menekankan makna persahabatan.

@h_tanzil

Friday, 30 October 2009

Kamus Khazar

[No. 226]
Judul : Kamus Khazar (Sebuah Novel Leksikon)
Penulis : Milorad Pavic
Penerjemah : Noor Cholis
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Juni 2009
Tebal : 505 hlm

Ingin mencoba menikmati pengalaman baru dalam membaca sebuah novel ? Silahkan mencobanya dengan membaca novel leksikon Kamus Khazar karya Milorad Pavic, profesor sejarah kesusasteraan Universitas Beograd dan salah satu penyair kenamaan Yugoslavia. Walau novel ini diberi judul “Kamus Khazar” (Dictionary of The Khazars) namun ini adalah novel. Tepatnya novel berbentuk kamus atau mungkin lebih tepatnya novel berbentuk ensiklopedia. Nah bagaimana mungkin?

Inilah keunikan buku ini, walau berbentuk seperti ensiklopedia namun ini bukanlah buku yang dapat dijadikan buku referensi karena ini adalah sebuah karya fiksi yang mencampuradukkan sejarah, budaya, dongeng, mimpi dan imajinasi penulisnya tentang sebuah bangsa yang bernama bangsa Khazar.

Bangsa Khazar sendiri pada kenyataannya memang pernah ada. Sejarah mencatat bahwa pada puncak kejayaannya mereka menguasai sebagian besar dari wilayah Rusia selatan sekarang, Kazakhstan barat, Ukraina timur, dan sebagian besar Kaukasus (termasuk Dagestan, Azerbaijan, Georgia, dll.) Bangsa Khazar memasuki catatan sejarah ketika mereka memerangi bangsa Arab dan berrsekutu dengan Kekaisaran Bizentium pada 627 M.

Walau Bangsa Khazar pernah menguasai sebagian besar wilayah Rusia sekarang dan pernah memerangi bangsa Arab namun ironisnya hingga kini sedikit sekali yang dapat kita ketahui tentang bangsa ini, seluruh jejak mereka musnah, tidak menyisakan apa pun yang bisa dipakai untuk mengetahui asal-usul bangsa ini. Konon bangsa Khazar lenyap dari panggung sejarah setelah mereka mengalami peristiwa yang akan menjadi bahasan utama buku ini.

Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah ‘Polemik Khazar’ . Sebuah peristiwa besar ketika bangsa Khazar hendak melakukan perpindahan keyakinan dari keyakinan asli mereka ke salah satu dari tiga agama yang telah dikenal pada masa itu yaitu Yahudi, Islam, dan Kristen. Keruntuhan Imperium Khazar terjadi tidak lama setelah perpindahan agama itu saat Kekaisaran Rusia menghancur leburkan bangsa ini (965 - 970 M).

Tidak hanya bangsa ini yang lenyap, tapi kebudayaan, tulisan, dan artefak-artefak budaya merekapun hancur, nyaris lenyap dan hanya menyisakan sedikit bahan yang sangat sulit untuk dijadikan acuan untuk mempelajari kebudayaan Bangsa yang telah punah ini.

Namun minimnya bahan yang bisa diperoleh mengenai bangsa Khazar rupanya tak menyurutkan Milorad Pavic untuk membuat novel mengenai bangsa ini. Hal ini malah memberinya ruang imajinasi yang tanpa batas untuk mengisahkan bangsa Khazar menurut versinya. Dalam hal ini Pavic secara sastrawi mencoba menjajaki dan menyingkap Polemik Khazar ke dalam novelnya secara menarik dan tidak biasa, yaitu dengan cara penyajian layaknya sebuah ensiklopedi.

Dari mana Pavic memperoleh idenya ini? dalam catatan pendahuluannya yang terdapat dalam novel ini, ia mengungkapkan bahwa novelnya ini adalah rekonstruksi ulang dari edisi orisinal kamus Khazar karya Daubmannus yang terbit pada tahun 1691 dan dimusnahkan secara barbar pada tahun 1692 karena dianggap sebagai buku sesat. Untungnya masih ada halaman-halaman atau fragmen-fragmen yang tersisa dari kamus edisi orisinalnya. Berdasarkan lembar-lembar yang tersisa inilah Pavic mencoba merekonstruksi seperti apa kira-kira wujud dan isi dari kamus yang telah lenyap itu.

Sama dengan edisi Daubmannus 1691, Pavic menyajikan bukunya ini dalam tiga bagian utama berdasarkan tiga sudut pandang agama yang saling merebut simpatik penguasa Khazar agar memilih agamanya. Pembagian bab buku ini masing-masing diistilahkan sebagai ‘buku’ , yaitu Buku Merah (perspektif Kristen), Buku Hijau (perspektif Islam), dan Buku Kuning (perspektif Yahudi) yang masing-masingnya memberikan penjelasan tentang bangsa Khazar beserta polemiknya.

Karena setiap bagian disajikan menggunakan sudut pandangnya masing-masing maka tentunya akan ada beberapa bagian yang saling bertentangan, namun ada juga yang memiliki persamaan, atau saling melengkapi satu bagian dengan bagian lainnya.

Tidak hanya polemik Khazar yang dibahas dalam buku ini namun ada berbagai lema lainnya mengenai bangsa Khazar seperti dongeng, anekdot, sejarah, sejarah kamus Khazar karya Daubmannus, dll, bahkan kisah tentang para peneliti bangsa Khazar di masa kini pun ikut mewarnai buku ini.

Dengan gaya penyajian novel seperti halnya sebuah kamus/ensiklopedia yang terususun berdasarkan alfabetikal maka jangan harap kita akan mendapatkan gambaran dan sejarah mengenai bangsa khazar secara kronologis. Akibatnya jika novel ini dibaca secara berurutan dari halaman pertama hingga terakhir, maka pembaca akan dibawa terlempar bolak-balik dari satu masa ke masa lainnya.

Bukan hal yang mudah memang untuk membaca novel ini. Pembaca yang tidak sabaran dan tidak telaten kemungkinan akan menyerah dan mogok di tengah jalan sebelum menamatkannya. Untungnya di awal buku ini, penulis memberikan pendahuluan yang berisi sejarah bangsa Khazar beserta polemiknya secara runut sehingga walau pembaca menyerah di tengah jalan, setidaknya ia bisa memperoleh gambaran umum mengenai bangsa Khazar dan polemiknya.

Seperti halnya ketika kita membaca sebuah ensiklopedia, tentunya kita tak harus membaca buku ini secara berurutan dari halaman pertama hingga akhir. Kita bisa membacanya dari mana saja. Bisa saja kita membacanya berdasarkan lema-lema yang kita sukai atau topic yang ingin kita ketahui. Karena ada tiga bagian yang mungkin akan memiliki lema yang sama, rasanya akan lebih mengasyikan jika kita memilih satu lema di bagian pertama lalu membandingkannya dengan lema yang sama di bagian yang lain.

Jadi memang diperlukan usaha kreatif dari pembacanya agar dapat menikmati novel dan menyatukan cerita yang tercerai berai ini dengan baik. Pavic sendiri sadar akan kesulitan yang mungkin akan dialami pembaca dalam memahami bukunya ini, karenanya dalam catatan pendahulaunnya ia memberikan sub bab tersendiri yang berisi cara penggunaan/pembacaan buku ini.

Namun Pavic juga menegaskan bahwa ia memberikan kebebasan pada pembacanya untuk mencerna buku ini. Ia menyarankan agar pembaca menemukan dan membuat jalannya sendiri bagaimana cara terbaik untuk membaca buku ini. Dan bagaimanapun cara memabacanya pastinya masing-masing cara akan memberikan sensasi sendiri pada pembacanya. Jadi Novel ini memang menantang kita untuk tidak bersikap pasif ketika membaca, tetapi berpartisipasi aktif menyatukan cerita yang terbagi-bagi.

Sebagaimana sebuah kamus atau endiklopedia, maka sangat wajar jika buku ini tidak perlu dibaca seluruhnya ; orang bisa membaca setengah, atau satu bagian saja. Namun harus pula diingat bahwa semakin banyak orang membaca dan mencari maka semakin banyak pula yang didapatkan di buku ini.

Semua berpulang pada pembacanya. Novel ini bisa saja menjadi buku yang membosankan, atau bisa juga membuat pembacanya merasa tertantang untuk menuntaskannya dengan caranya sendiri dan mengurai semua lema yang ada, menyatukan kisah-kisah yang tercerai berai untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai Bangsa Khazar, sebuah bangsa besar yang kini telah punah dari peta kebudayaan dunia.

@h_tanzil