Wednesday, 7 April 2010

Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan

No. 233
Judul : Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan
Penulis : Dedi Ahimsa Riyadi
Penerbit : Edelweiss
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : 279 hlm

Kehidupan para tokoh sejarah memang menarik untuk ditulis, tak heran begitu banyak biografi, memoir, atau buku-buku yang mengupas kisah hidup tokoh-tokoh sejarah. Begitupun dengan kisah kehidupan Mohamad Hatta. Jika kita perhatikan selain Memoir Hatta yang terbit pertama kalinya pada tahun 1982
oleh penerbit Tinta Mas, muncullah beberapa tulisan dan buku tentang Hatta baik yang ditulis oleh keluarganya maupun dari orang-orang terdekatnya.

Seolah ingin melangkapi kehadiran buku-buku tentang Hatta, Dedi Ahimsa Riyadi, penulis yang aktif menulis cerpen, artikel sastra, budaya dan agama yang diantaranya dimuat di Kompas, Sindo, dan Pikiran Rakyat menulis sebuah buku tentang Hatta berjudul, Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan”. Buku ini dilabeli oleh penerbitnya sebagai sebuah “Novel Biografi”.

Buku ini tampaknya berhasil merekam fragmen panjang kehidupan dan perjuangan Hatta mulai dari masa kecil, hingga sepak terjangnya sebelum dan sesaat setelah kemerdekaan. Walau bertaburan oleh fakta sejarah namun kalimat-kalimatnya enak dibaca seperti layaknya buku fiksi.

Penulis membagi buku ini menjadi dua bagian besar, bagian pertama menceritakan masa kecil Hatta sejak di Bukittingi, hingga sekolah di Padang. Di bagian ini akan terungkap bagaiman ia dibesarkan dengan baik. Keluarganya adalah keluarga yang mengutamakan agama dan pendidikan sebagai hal yang penting bagi putra-putirnya. Tadinya ibunya maupun kakeknya menginginkan agar Hatta melanjutkan sekolahnya hingga ke Mekkah, namun takdir membawa Hatta menimba ilmu hingga ke negeri Belanda. Pondasi keagamaan dan pendidikan yang dibangun oleh keluarganya sejak Hatta belia inilah yang di kemudian hari akan menjadi pegangan dan sandarannya dalam memilih jalur pergerakan.

Separuh bagian lain menceritakan kehidupan Hatta selama menempuh pendidikan di Belanda, sampai kembali ke Indonesia, memimpin organisasi pergerakan, kehidupannya di Digul, hingga perannya dalam mengantar Indonesia ke gerbang kemerdekaan dan sebagai proklamator-penandatangan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di bagian ini juga akan terungkap berbagai perbedaan pendapat dan polemik di surat kabar mengenai bentuk perjuangan yang harus dilakukan guna mencapai kemerdekaan Indonesia.

Secara umum buku ini memang menarik, namun ada juga kekecewaan saya terhadap buku ini. Mungkin karena saya terlalu berekspektasi terlalu jauh terhadap buku yang diberi label novel biografi ini. Karena di cover buku ini tertera predikat sebagai “Novel Biografi” saya beranggapan buku ini ya seperti novel-novel pada umunya dimana ada kisah-kisah kehidupan yang menarik atas tokoh Hatta yang terungkap. Namun sayangnya novel ini terlalu setia pada alur sejarah. Tak ada kisah-kisah kehidupan Hatta yang ditafsirkan oleh penulisnya. Padahal dalam ranah fiksi, walau tokoh yang diangkatnya merupakan tokoh sejarah penulis toh punya kebebasan untuk mengembangkan kisahnya sendiri sesuai dengan imajinasinya.

Hal ini tampaknya tidak dilakukan oleh penulis. Jadinya apa yang dikisahkan sama dengan buku-buku memoir Hatta ataupun buku-buku lain tentang Hatta. Tak ada kisah yang baru tentang Hatta di novel ini, penulis hanya membeberkan fakta dan menambahkan suasana, deskripsi tempat, dan sedikit sekali dialog antar tokoh-tokohnya. Jadi membaca novel ini tak ubahnya seperti membaca buku memoir, bukan novel!

Padahal berdasarkan apa yang terdapat dalam buku ini, penulis tampak mengetahui sekali alur dan fakta2 sejarah kehidupan Hatta, itu bisa jadi modal utama untuk memfiksikan kehidupan Hatta, sayang penulis tidak melakukannya dan memilih hanya membeberkan fakta sejarahnya saja. Andai saja penulis berani menciptakan drama kehidupan Hatta selama masa kanak-kanak, hubungannya dengan saudara-saudaranya, kehidupannya selama di Belanda, perjuangannya mempertahankan hidup di Digul dengan lebih naratif, lengkap dengan konflik-konflik batin yang dialami Hatta tentunya buku ini akan semakin menarik.

Karena tidak adanya drama kehidupan Hatta yang diceritakan, sosok Hatta di novel ini menjadi sama dengan sosoknya di buku-buku sejarah, seorang tokoh sejarah yang nyaris sempurna. Padahal jika buku ini diniatkan sebagai sebuah novel, tentunya akan lebih menarik jika sosok Hatta dihadirkan sebagai sosok manusiawi dengan segala persoalan dan kelemahan-kelemahannya. Selain itu Alur kisahnya yang terkadang melompat-lompat dan beberapa pengulangan di sana-sini sedikit banyak agak mengganggu saya dalam menikmati buku ini.

Cover buku dan judul buku ini juga sempat membuat saya terkecoh. Begitu melihat judul “Hikayat Cinta dan Kemerdekaan” dan cover buku ini yang menampilkan Hatta bersama dengan Rahmi Hatta saya langsung menduga bahwa akan ada kisah menarik tentang kisah cinta antara Hatta dengan Rahmi, ternyata tidak, hanya sedikit sekali kisah mengenai Hatta dan Rahmi di novel ini.

Novel ini juga dihiasi oleh beberapa foto Hatta, sayang penempatannya tidak sesuai dengan narasinya, misalnya foto Hatta di Jenewa, 1952 disisipkan di bagian kelahiran Hatta, foto ulang tahun ke 70 ditempatkan di bagian yang mengisahkan proklamasi kemerdekaan, dll. Mungkin daripada foto-foto tersebut ditempatkan tidak sesuai dengan narasinya akan lebih baik jika ditempatkan saja di halaman khusus foto.

Namun terlepas dari hal diatas, sebagai sebuah buku yang mengungkap kehidupan Hatta dan sepak terjangnya buku ini bisa dijadikan pilihan. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini merupakan buku pengantar bagi mereka yang baru dan ingin mengenal siapa sosok Hatta.

Fakta-fakta sejarah yang terungkap cukup lengkap, pembaca diajak mengetahui bagaimana sejarah Perang Paderi, perjuangan Hatta di Belanda bersama perkumpulan Perhimpunan Indonesia, bagaimana Hatta membesarkan partainya, perbedaan pendapatnya dengan Soekarno, kecintaannya terhadap buku, dan sebagai bonus bagi pembaca adalah dimuatnya puisi karya Hatta yang berjudul "Berantara Indera" sebagai penutup buku ini.

Dalam endorsmentnya Acep Zamzam Noor menulis bahwa, “ Apa yang dilakukan penulis dalam buku ini bukan sekedar mengungkap fakta-fakta sejarah, tapi bagaimana fakta-fakta tersebut diungkapkan dengan cara yang indah. Dengan demikian, bagi saya buku ini merupakan sebuah karya sastra.”

Saya sepakat dengan endorsement Acep Zamzam Noor, buku ini memang berhasil menyastrakan sebuah narasi sejarah dan kehidupan Hatta, namun sebagai novel, berdasarkan hal-hal yang telah saya tuliskan di atas, saya rasa buku ini bukan sebuah novel melainkan sebuah memoir atau buku sejarah dengan kemasan sastra.

@htanzil

Tuesday, 23 March 2010

Elang - Kirana Kejora

No. 234
Judul : Elang
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Almira Managemet
Cetakan : I, 2009
Tebal : 300 hlm

Novel Elang adalah sebuah novel roman humanis yang menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara Kejora Padma, seorang penulis novel dengan dua pemuda kembar fraternal (non identik) Elang Timur dan Elang Laut.

Tidak seperti hubungan saudara kembar pada umumnya yang hidup rukun dan memiliki kedekatan emosional yang saling mengikat, Elang Laut dan Elang Timur hidup dalam suasana penuh persaingan yang mereka lakoni semenjak kecil. Hal ini menyebabkan hubungan antara mereka tidak harmonis, masing-masing didominasi oleh perasaan untuk saling mengalahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini terus terbawa hingga mereka dewasa dan mencintai wanita yang sama, Kejora Padma.

Sayangnya pertarungan untuk memperebutkan cinta Kejora harus kandas, tak ada yang menang karena akhirnya Kejora menikah dengan Abi, lelaki pilihan ibunya. Dari pernikahannya dengan Abi, lahirlah seorang putra yang dinamainya Laskar. Sayang rumah tangga Kejora tidaklah bahagia, dan ketika Abi meminta izin Kejora untuk menikah kembali, Kejora memilih untuk bercerai daripada dimadu.

Walaupun hati Elang Timur dan Elang Laut pernah terluka karena pernikahan Kejora dengan Abi, namun cinta mereka pada Kejora tak pernah lenyap. Perceraian Kejora dengan Abi membuka kesempatan bagi Elang Timur untuk kembali mendekati Kejora, bukan hal yang mudah karena masih ada Elang Laut yang tetap menjadi pesaing utamanya. Kejora pun sempat dilanda kebimbangan mana yang akan dia pilih untuk menjadi ayah bagi Laskar.

Jika hanya membaca sinopsis di atas tampaknya tak ada yang istimewa dalam novel ini, tapi tunggu dulu, walau inti ceritanya tampak sederhana tapi dibalik tema utama yang sederhana ini penulis dengan piawai meramu kisahnya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik dan sarat dengan konflik diantara para tokoh-tokohnya.

Dari segi penokohan, ketiga tokoh utama di novel ini tereksplorasi dengan baik. Timur dideskripsikan sebagai seorang imuwan sejati yang sukses secara materi. Ia tipe pria yang teguh pada prinsip dan pilihan hidupnya. Cintanya pada Kejora sudah final dan ia tak terus mengejar Kejora ketika diketahuinya bahwa Kejora telah bercerai dengan Abi.

Sedangkan Elang Laut digambarkan sebagai seorang seniman sejati yang setia terhadap jalan hidupnya. Sama seperti Timur yang tetap mengharap cinta Kejora, demikian pula dengan Laut, namun selayaknya seorang penyair, ia lebih mengungkapkan cintanya melalui karya-karyanya, berbeda dengan Timur yang mengungkapkan cintanya dengan tindakan dan kata-kata yang lugas.

Berbeda dengan karakter Timur yang terlihat sangat kokoh dan tegas akan pendiriannya untuk mencintai Kejora, karakter Laut terkesan lemah dan penuh keraguan, namun cintanya pada Kejora betul-betul mulia Ia mampu mencintai Jora meski tak harus memilikinya. Inilah cinta dalam level tertinggi yang mampu mengalahkan egonya.

Kedua bersaudara ini memang berbeda, namun merekapun memiliki kesamaan, sama-sama setia pada profesinya dan sama-sama memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungannya.

Kejora sendiri digambarkan sebagai seorang penulis yang mulai menanjak kariernya, walau gagal dalam pernikahannya ia tak tenggelam dalam kepedihan ia bukanlah tokoh yang lemah, Kejora adalah sosok wanita yang tegar, berani mengambil sikap, bahkan ia berani menanyakan secara langsung kepada Laut bagaimana sesungguhnya perasaan cinta Laut pada dirinya.

Sejak dari awal pembaca akan disuguhkan oleh berbagai konflik antar tokoh-tokohnya. Persaingan abadi antar dua saudara kembar menjadi hal yang menarik dan rumit karena menyangkut soal cinta. Kejora sendiri dilanda kegalauan untuk memilih siapa diantara mereka yang merupakan pelabuhan terkahir hatinya, ia mencintai keduanya, haruskah ia mengorbankan salah satu pria yang dicintainya?

Dan yang juga menarik adalah sekujur novel ini tersaji dengan kalimat-kalimat puitis yang membuai pembacanya. Walau demikian penulis tampak tak terjebak untuk menggunakan metafora-metafora yang berlebihan yang kadang bisa membingungkan pembacanya. Dalam novel ini rangkaian kalimat-kalimat bersayap dan metafora-metafora yang digunakan masih bisa dimengerti dan dinikmati oleh pembaca awam sekalipun karenanya novel ini saya rasa memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi karena tersaji dengan indah, mengalir, mudah dipahami dan enak dibaca.

Plot ceritanyapun tertata dengan baik perlahan tapi pasti emosi pembaca akan meningkat seiring dengan meruncingnya konflik yang terjadi antar tokoh-tokohnya dan mencapai klimaksnya di akhir cerita. Hanya saja ada satu bagian yang bagi saya sedikit mengganggu yaitu saat menceritakan bagian kehidupan Elang Laut ketika berada di Lombok..

Bagian ini memang menarik karena penulis berhasil menangkap landskap alam dan realita sosial yang ada di Lombok. Namun dengan munculnya konflik-konflik baru seperti soal demo masyakarat Lombok yang tanahnya yang diserobot oleh pihak-pihak tertentu, saya koq merasa bagian ini seakan-akan terlepas dari inti novel ini sehingga terkesan seperti berdiri sendiri.

Setting cerita yang berlokasi di tiga tempat, Papua, Jakarta, dan Lombok menjadi nilai tambah sendiri bagi novel ini. Walau tak banyak setidaknya akan tertangkap realita sosial di tiga tempat tersebut. Melihat cover novel ini yang menggambarkan panorama pegunungan, tadinya saya menyangka settingnya akan banyak berkisah di Papua atau tem tempat-tempat eksotis lainnya, namun ternyata tidak, setting di Jakarta lebih mendominasi, andai kisahnya lebih banyak di Papua atau Lombok tentunya akan lebih menarik lagi.

Terlepas dari hal-hal di atas secara keseluruhan novel yang diangkat dari kisah nyata ini bagi saya tetaplah menarik, karenanya tak heran jika novel ini banyak diapresiasi dengan baik oleh para sastrawan-sastrawan tanah air ketika novel ini baru diluncurkan. Selain itu kabarnya novel ini juga akan segera diadaptasi ke layar lebar.

Akhir kata novel ini tak hanya menghibur pembacanya, ada banyak hal yang dapat kita maknai ketika membaca novel ini antara lain bagaimana kita harus berani mengambil pilihan dalam hidup kita serta memiliki komitmen untuk tetap setia menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan yang telah kita ambil.

@htanzil