Showing posts with label Akhlaq. Show all posts
Showing posts with label Akhlaq. Show all posts

Sunday, 11 July 2010

Tiga Sebab Munculnya Ekstremitas

Sifat tergesa pada manusia sering mencuat saat menginginkan tercapainya tujuan-tujuan besar


إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنُ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَأَبْشِرُوْا - البخاري

“Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama itu melainkan pasti ia (agama) akan mengalahkan orang itu. Maka bersikap lurus, moderat, dan sikapilah dengan gembira (lapang dada).” (Al-Bukhari)

Hadits di atas menegaskan kepada kita bahwa aslinya Islam adalah moderat dan jauh dari ekstremitas. Al-Qur’an dan Sunnah telah menggariskan segala sesuatu yang membuat manusia mencapai kebaikan, kebahagiaan, serta kejayaan dunia dan akhirat. Ada nash-nash yang amat rinci seperti penjelasan mengenai praktik ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Petunjuk untuk ibadah-ibadah seperti itu telah sangat gamblang dan lengkap. Hal lain yang diterangkan secara rinci adalah pembagian harta waris. Siapa yang berhak memperolah harta waris dan berapa bagian untuk masing-masing orang yang berhak itu.

Selain itu, ada pula petunjuk-petunjuk Islam yang bersifat global dan umum. Perinciannya diserahkan kepada ijtihad orang-orang yang berkompeten untuk itu. Yakni para ulama dengan kualifikasi tertentu. Petunjuk yang bersifat global ini banyak berkaitan dengan masalah-masalah muamalah, politik, budaya, dan lain sebagainya. Namun semua itu tidak lepas dari bingkai umum yang telah diberikan oleh Islam.

Tanpa standar itu maka akan terjadi bias dalam penilaian. Bisa saja karena seseorang tidak suka dengan cara temannya berislam –yang belum tentu salah– dicaplah dia sebagai ekstrem. Dan sebaliknya orang yang selalu mengambil pilihan yang sulit dan ‘keras’ akan menuduh orang yang berbeda dengan dirinya sebagai orang yang tidak komit, lembek, dan penakut. Jadi tidak ada Islam ekstrem, yang ada adalah muslim ekstrem. Ini ditegaskan pula oleh Rasulullah saw., “Binasalah mutanath-thi’un.” Beliau mengulangi kalimat itu sampai tiga kali. (Muslim)

Imam Nawawi, dalam kitabnya Riyadhush-Shalihin, menjelaskan kata ‘mutanath-thi’un’ yang ada dalam hadits itu: “Mutanath-thi’un adalah orang-orang yang mendalam-dalami (secara memaksakan diri) dan bersikap keras dalam hal yang tidak seharusnya keras.”

Mengapa muncul sikap memberat-beratkan diri sendiri dalam melaksanakan Islam? Banyak sebab, antara lain:

1. Memahami Syariat Islam secara parsial.

Pemahaman parsial tentang Islam (syariat Islam) mempunyai peran besar dalam memunculkan perilaku ekstrem. Syariat Islam Islam merupakan satu bangunan utuh yang satu komponen dengan lainnya saling menguatkan. Fondasinya akidah dan keimanan. Lantai pertamanya adalah akhlak dan perilaku. Ibadah-ibadah ritual (ta’abbudi) adalah lantai kedua. Lantai ketiganya adalah mu’amalat dengan segala cabangnya. Dan bangunan Islam tidak akan tegak kecuali dengan tegaknya bagian-bagian itu.

Syariat Islam bukanlah hanya berisikan hudud seperti hukum potong tangan, hukum rajam, atau hukum cambuk. Karenanya, dalam kacamata Islam, menegakkan syariat Islam bukan hanya menegakkan hudud itu. Terkait dengan hal ini, Dr. ‘Ali Juraisyah menegaskan, “Bukan hanya dengan hudud syariat Islam ditegakkan. Karena hudud hanyalah bagian dari hukum-hukum mu’amalah. Sedangkan mu’amalah merupakan lantai tiga atau empat dari bangunan syariat. Jadi semata-mata menegakkan hudud atau bahkan mu’amalat secara keseluruhan, sama dengan kita membangun lantai tiga atau empat tanpa lantai satu dan dua, dan tanpa fondasi. Lalu bagaimana bangunan itu akan berdiri tegak?”

Oleh karena itu, pandangan yang mengatakan bahwa Islam hanyalah mengatur urusan pribadi sama kelirunya dengan pandangan yang menyatakan bahwa jihad lebih penting dari shalat, atau sebaliknya. Dan sama salahnya dengan pandangan yang menyatakan bahwa “mendirikan” negara Islam atau Khilafah Islamiyyah adalah lebih penting dari membina akidah dan akhlak, atau sebaliknya. Karena kesemuanya itu adalah merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari integralitas Islam.

Dalam pembahasan iman kepada Allah, misalnya, ada bagian yang oleh para ulama diistilahkan dengan tauhidul-asma wash-shifat (mengesakan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya). Dan tauhid ini merupakan bentuk ketiga tauhid. Yang pertama dan keduanya adalah tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.

Dari situ jelas bahwa akidah bukan saja urusan tauhidul asma wash-shifat. Ia adalah merupakan bagian dari pembahasan iman kepada Allah. Dan iman kepada Allah adalah rukun pertama dari rukun iman. Dan selain mempunyai rukun, iman juga mempunyai cabang-cabang. Dalam urusan ibadah, shalat “hanyalah” satu dari rukun Islam. Dan rukun Islam adalah bagian asasi dari Islam dan bukanlah keseluruhan Islam. Di dalam Islam ada dzikir, ada ukhuwwah, ada khusyu, ada tawadhu’, ada jihad dan seterusnya.

2. Kedangkalan Ilmu.

Semangat saja belum cukup untuk membela Islam. Selain semangat harus ada ilmu. Akibat kedangkalan pemahaman dan tidak menguasai sendi-sendi hukum dalam Islam dapat pula memunculkan ekstremitas. Syaikh Yusuf Qardhawi –semoga Allah menjaganya– untuk menggambarkan hal itu dengan menggunakan istilah dha’ful-bashirati bihaqiqatid-din (lemahnya pemahaman tentang hakikat agama).

Lebih jelasnya beliau menyebutkan, “Yang saya maksudkan bukanlah kebodohan mutlak tentang agama. Kebodohan yang macam itu biasanya tidak memunculkan sikap ekstrem bahkan boleh jadi memunculkan sikap sebaliknya: tidak punya pegangan dan lumer. Yang saya maksudkan justru sepotong ilmu yang dengannya pemiliknya merasa sudah masuk ke dalam kelompok ulama.” (Lihat Ash-Shahwatul-Islamiyyah Bainal-Juhud Wat-Tatharruf, Dr. Yusuf Qardhawi, hal. 64.)

Dari kedangkalan ilmu pula dapat muncul perilaku mudah mengkafirkan orang lain. Pantaslah ilmu dan hujjah mutlak wajib dimiliki oleh para dai. Ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)

3. Terburu Nafsu


Sifat tergesa-gesa pada manusia sering mencuat saat menginginkan tercapainya tujuan-tujuan besar. Baik terkait dengan dunia maupun akhirat. “Apabila untuk mencapainya mengambil jalan pintas dengan cara berlebihan dalam ketaatan dan ibadah sambil berkeyakinan bahwa manhaj Islam yang asli tidaklah cukup dan tidak akan mengantarkan kepada tujuan, maka ini jelas kesalahan besar. Dari sinilah berangkatnya sikap mengharamkan untuk dirinya hal-hal yang jelas-jelas mubah (boleh). Atau mewajibkan untuk dirinya ibadah-ibadah yang hukumnya sunnah,” Kata Dr. Muhammad Zuhaili.

“Hal itu diperburuk dengan sikap membenarkan hawa nafsunya dan merasa bangga dengan apa yang dilakukannya itu sembari beranggapan bahwa jalan yang ia tempuh adalah jalan yang benar. Ini biasanya juga diberangi dengan tudingan bahwa jalan yang ditempuh orang lain adalah jalan yang salah atau kurang,” imbuh Muhammad Zuhaili (Al-I’tidal Fit-tadayyun hal. 11-12).

Sikap isti’jal kerap muncul dan seringkali tampil sebagai ekstremitas. Tidak terkecuali di jalan dakwah. Ini bisa terjadi ketika cita-cita menegakkan kedaulatan Islam tidak dibarengi dengan kesabaran untuk menempuh perjalanan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw. Dr. Sayyid Muhammad Nuh menggambarkan sikap isti’jal itu, “Ia ingin mengubah kondisi atau realita kehidupan kaum muslimin dalam waktu sekejap tanpa mempertimbangkan akibatnya, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi, dan tanpa persiapan yang matang dengan segala uslub dan wasilahnya.” (Terapi Mental Aktivis Harakah, hal. 81)

Jadi, aslinya Islam itu mudah, adil, seimbang, dan wasath (moderat). Orang yang paling moderat adalah yang paling komitmen kepada seluruh ajaran Islam. Dan ekstremitas terjadi justru manakala orang meninggalkan Islam atau menyimpang dari pelaksanaan Islam yang digariskan oleh Rasulullah saw. Allahu A’lam.

Sunday, 4 July 2010

Nabi Muhammad SAW juga manusia

Rasulullah saw. merupakan manusia pilihan Allah sebagai nabi dan rasul-Nya. Beliau diutus Allah kepada seluruh manusia untuk menyampaikan risalah Islam. Beliau adalah sosok pribadi yang kharismatik penuh wibawa dan memancarkan kemuliaan juga memiliki keluhuran budi. Setiap ucapan dan perbuatannya selalu dikuti oleh setiap pengikutnya. Senantiasa dijadikan figur dan teladan dalam dalam setiap gerak langkahnya.

Tidak hanya memiliki kepribadian yang mulia, beliau juga merupakan pemimpin yang bijaksana, cerdas, amanah, yang mampu mengayomi umatnya. Beliau memiliki peran sentral dalam perjuangan umat Islam.

Namun bila kita perhatikan sederetan keutamaan dan keunggulan beliau, menunjukan bahwa beliau itu manusia sempurna yang tidak memiliki kekurangan dan kelemahan sedikitpun. Seolah-olah beliau itu malaikat yang tidak pernah melakukan salah.

Tetapi perlu kita ingat bahwa Nabi Muhammad saw. juga manusia biasa seperti kita sama halnya dengan semua manusia. Dalam surat Al-Kahfi ayat 110 ada penggalan ayat ”sesungguhnya aku (Muhammad) hanya seorang manusia biasa seperti kamu”. Kata basyar ini biasa digunakan untuk menunujukan manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk yang memiliki persamaan dengan sesamanya. Nabi Muhammad saw adalah basyar seperti basyar (manusia) yang lain. Beliau memiliki juga panca indra sebagaimana yang lain. Merasa lapar, dahaga, serta memiliki naluri dan kebutuhan-kebutuhan jasmani dan psikologis. Beliau juga dilahirkan sebagaimana semua manusia dilahirkan, lalu melewati masa kanak-kanak. Beliau pun menikah, punya anak, mengalami sehat, sakit, merasakan sesuatu yang dirasa semua orang berupa kesedihan dan kegembiraan. Seperti kesedihan ketika meninggalnya istri tercinta Khadijah dan Abu Thalib yang selalu membela dan melindungi beliau dari gangguan orang-orang Quraisy. Juga merasakan kegembiraan ketika memenangkan peperangan  pada perang Badar dan Fathul Makkah sebagaimana merasakan kekalahan para perang Uhud dan Hunain. Inilah persamaan Nabi Muhammad saw dengan manusia yang lain.

Yang membedakan Nabi Muhammad saw. dan manusia lainnya adalah hanya pada kedudukannya sebagai nabi dan rasul yang mendapat wahyu Allah swt. disertai keistimewaannya dari segi budi pekerti dan kesucian jiwanya.

Berbeda dengan dugaan kaum musyrikin yang mengira bahwa para nabi termasuk Nabi Muhammad saw. memiliki kemampuan seperti dengan kemampuan Allah serta mengetahui segala yang ghaib. 

Nabi Muhammad saw. memiliki kelebihan dibandingkan manusia lainnya yaitu beliau orang yang di ma’sum oleh Allah swt. dalam artian bukan berarti beliau tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi yang di maksud di ma’sum disini adalah bahwa beliau itu tidak akan pernah salah dalam menyampaikan wahyu. Beliau selalu dibimbing langsung langsung oleh malaikan Jiblir dalam menyampaikan wahyu. Apabila beliau melakukan kesalahan maka Allah langsung menegornya dengan wahyu juga melalui perantaraan Jibril.

Berbagai sisi kemanusiaan Nabi Muhammad saw. yang disebutkan diatas menunjukan bahwa beliau itu manusia biasa. Salah satu ciri paling menonjol dari yang menunjukan bahwa beliau memang benar manusia biasa, yaitu mengalami kematian, sama halnya dengan manusia pada umumnya, karena beliau itu bukan manusia yang memiliki keabadian seperti Allah swt yang maha Kekal  dan tidak akan mengalami kematian.

Apa jadinya apabila Nabi Muhammad saw. tidak wafat? Kaum muslimin akan menghadapi fitnah yang besar dan berbagai kesesatan. Akibatnya akan terjadi pengkultusan dan pengagungan yang berlebihan, bahkan mungkin akan menyamakannya dengan Tuhan. Seperti anggapan kaum musyrikin.

Dalam sejarah tercatat bagaimana peristiwan wafatnya Nabi Muhammad saw. yang diwarnai kesedihan yang mendalam yang dialami oleh para sahabat. Tidak hanya kesedihan yang mewarnai kewafataan beliau, tetapi ketidakpercayaan sahabat Umar bin Khathab bahwa Rasulullah saw. wafat. Bahkan Umar akan memotong tangan dan kaki orang yang mengatakan bahwa Nabi saw. wafat.

Peristiwa ini direkam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, ia berkata, ”Ketika Rulullah saw. wafat para sahabat menangis, kemudian Umar bin Khathab ra. berkhutbah di mesjid dan berkata, ”Sesungguhnya aku tidak akan mendengar ada orang yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. wafat, tetapi beliau diutus oleh Allah sebagaimana Musa bin Imran diutus Allah saw. dan meninggalkan kaumnya selama 40 hari. Sesungguhnya demi Allah aku akan memotong tangan dan kaki orang yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. wafat.” Ikrimah juga meriwayatkan, ia berkata,”Ketika Rasulullah saw. wafat, para sahabat berkata,”Sesungguhnya Allah mengangkat beliau ke langit dengan ruhnya, sebagaimana Allah mengangkat Musa as. dengan ruhnya.”Lalu, Umar berdiri sambil berkata,”Sesungguhnya Rasulullah saw. belum wafat, tetapi Allah mengangakat beliau ke langit dengan ruhnya, sebagaimana Allah mengangkat Nabi Musa ke langit dengan ruhnya, Rasulullah saw. tidak akan wafat, sehingga beliau memotong tangan-tangan dan lidah-lidah mereka (orang-orang).”Ikrimah meneruskan, ”Umar terus berbicara hingga sudut mulutnya berbusa. Kemudian Abu Bakar ra.,”Sesungguhnya, Rasulullah saw. telah wafat seperti halnya manusia lainnya, maka kuburkanlah saudaramu itu. Apakah Allah mematikan seseorang diantara kalian dengan satu kematian dan Allah mematikannya (Rasulullah) dengan dua kematian? Beliau lebih mulia di sisi Allah dari pada itu jika seperti yang kalian katakan. Maka, tidaklah sulit bagi Allah untuk membelah tanah, lalu Allah keluarkan beliau dari tanah tersebutr. Beliau tidak akan wafat sehingga beliau meninggalkan jalan yang halal itu halal dan yang hram itu haram, beliau menikah dan bercerai dan beliau juga berperang dan berdamai. Betapapun perhatian seorang gembala terhadap hewan gembalanya, hingga kepuncak bukit, merontokkan dedaunan untuk makanan hewannya dengan cemetinya dan mengisi tempat minumnya dengan tangannya sendiri dengan susah payah. Hal demikian tidak melebihi perhatian dan kasih sayang Rasulullah saw. terhadap kalian.

Pada riwayat lain Aisayah ra. Berkata,”Ketika Rasulullah saw. wafat, Umar dan Mughirah bin Syu’bah meminta izin, lalu mereka berdua masuk dan membuka kain wajah beliau, kemudian Umar berkata,”Apakah beliau pingsan? Alangkah beratnya pingsan Rasulullah saw.”Setelah mereka selesai, mereka pergi ke pintu, Mughirah berkata,”Wahai Umar! Demi Allah, Rasulullah saw. telah wafat.” Lalu Umar menjawab,”kamu dusta! Rasulullah saw. tidak wafat. Kamu terpengaruh fitnah, beliau tidak akan wafat sehingga orang-orang munafik binasa. Kemudian Abu Bakar datang naik mimbar lalu memuji Allah swt dan membaca firman Allah yang berbunyi,

Sesungguhnya kamu (Muhammad) akan mati dan Sesungguhnya mereka juga akan mati (pula).(Q.S. Al-Zumar (30): 30). Ia pun membaca firman Allah yang lain yang berbunyi,

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(QS. Ali Imran (3): 143-145).

Setelah membaca ayat ini Abu Bakar ra berkata, ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati, dan barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup dan tidak akan mati.”Lalu Umar ra. berkata, ”Apakah ayat ini dari kitab Allah? ”Abu Bakar menjawab, ”Ya” kemudian Umar ra. berkata,”Wahai manusia, ini Abu Bakar orangtua kaum muslimin. Baitlah ia! Orang-orang kemudian membaiatnya.

Peristiwa ini menunjukan kepada kita kecintaan dan kasih sayang para sahabat kepada Rasulullah Saw. begitu besar bahkan ketika wafatnya sebagian sahabat tidak percaya. Karena orang yang selalu diteladani dari setiap perkataan dan perbuatannya telah pergi untuk selama-lamanya dan tak akan pernah kembali.

Apa mau dikata Nabi Muhammad saw. juga manusia. Disinilah letak keunikannya. Dengan diciptakannya beliau seperti manusia biasa, hal ini menunjukan kebesaran dan kemuliaannya. Seandainya, beliau itu malaikat, pastilah terbesit dalam hati kita, ”Bagaimana mungkin kita bisa melakukan sesuatu yang dikerjakan malaikat?” malaikat itu selalu taat dan tidak pernah maksiat kepada Allah. Kita dituntut untuk senantiasa meneladani setiap ucapan dan perbuatannya, sedangkan kita manusia biasa? Suatu hal yang mustahil apabila kita ingin meneladani beliau apabila yang diteladaninya diciptakan seperti malaikat

Inilah hikmahnya kenapa beliau itu diciptakan seperti manusia biasa. yang terdiri atas daging dan darah juga memiliki karakteristik manusia pada umumnya. Maka hal yang wajar apabila kita meneladaninya dan kita pun bisa mengikuti jejak langkah dan sunah-sunahnya. Pertanyaanya, mengapa kita tidak mampu dan tidak mau meneladaninya? Sedangkan beliau sama dengan kita, sama-sama manusia bisa.

Wallahu’alam bishawab.

IRWAN MUNAWAN
Mahasiswa STAIPI Garut

Sumber : persis.or.id

Tuesday, 29 June 2010

Doa-doa hendak tidur

Sebagaimana dimaklumi bawa cukup banyak doa-doa yang dapat menjadi pilihan ketika hendak tidur. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, karena bagi kita tidur bukan hanya sekedar bentuk istirahat. Tetapi lebih jauh dari itu bahwa pada saat kita tertidur, segala kuasa dan kemampuan baik secara pisik maupun pikiran  sedang diambil oleh Allah swt. Sehingga segala sesuatunya diserahkan kepada Yang Maha mengurus alam ini. Lebih dari itu Ruh kita sedang digenggam oleh Allah dalam kekuasaan-Nya. Maka pada saat hendak tidur itulah kita serahkan segala yang ada pada diri kita.
Di dalam lafal doa-doa hendak tidur itu tersurat dan tersirat makna-makna demikian. Dan kita dapat memilih salah satunya.
Sebelum membacanya dianjurkan beberapahal sebagai berikut : Berwudlu, membersihkan tempat tidur sebelum berbaring, dan berbaring kesebelah kanan bagian badan.

بِاسْمِكَ  أَمُوتُ وَأَحْيَا. رواه البخاري، عن حذيفة بن اليمان 
2. Bismika amuutu wa ahya
Artinya:
Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup.
H.r. Al Bukhari, I: 1136. Dari Hudzaifah.

اللَّهُمَ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ وَأمُوتُ. رواه مسلم، احمد، ابن أبي شيبة.  عن البراء
3. Alloohumma bismika ahya wa bismika wa amuutu
Artinya:
Ya Allah dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati. H.r. Muslim, Sahih Muslim, IV: 2083, Ahmad, Amusnad Al Imam Ahmad, IV: 302, Ibnu Abi Syaibah, V: 322, dari Al Bara.
Dalam riwayat yang lain

اَللّهُمَّ بِسْمِكَ أَحْيَا وَأَمُوْتُ. رواه البخاري، ابو داود. عن حذيفة بن اليمانى
4. Alloohumma bismika ahya wa amuutu
Artinya:
Ya Allah dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan aku mati. H.r. Al Bukhari, Shahih Al Bukhari, I: 1337, Abu Daud, Sunan Abu Daud, II: 486, dari Hudzaifah bin Al Yamani

بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ. رواه البخاري، احمد. عن أبي هريرة
5. Bismika robbi wa dlo’tu janbii wa bika arfa’uhu in amsakta nafsii faghfir laha wa in arsaltaha fahfadhha bima tahfadhu bihi ‘ibadakas sholihiina
Artinya:
Dengan menyebut nama-Mu ya Tuhanku, aku baringkan tubuhku dan karena-Mu aku akan mengangkatnya (bangun lagi). Jika Engkau tahan ruhku (Engkau wafatkan), ampunilah dia. Dan jika Engkau lepaskan kembali (masih hidup), maka periharalah dia dengan apa-apa (cahaya keimanan) yang  Engkau telah memelihara hamba-hamba-Mu yang sholih. H.r. Al Bukhari, I: 1338, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, XV: 361, dari Abu Hurairah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّي بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ. رواه مسلم، ابن حبان. عن ابي هريرة
6. Subhanakalloohumma robbi bika wadlo’tu janbii wa bika arfa’uhu in amsakta nafsii faghfirlaha wa in arsaltaha fahfadhha bima tahfadhu bihi ‘ibadakas shoolihiina
Artinta:
Mahasuci Engkau ya Allah Tuhan kami, karena-Mu aku baringkan tubuhku dan karena-Mu aku mengangkatnya Bangun lagi). Jika Engkau tahan ruhku, ampunilah dia. Dan jika Engkau lepaskan kembali, maka periharalah dia dengan apa-apa (cahaya keimanan) yang  Engkau telah memelihara hamba-hamba-Mu yang sholih.
H.r. Muslim, Sahih Muslim, II: 580. Ibnu Hiban, Shohih Ibnu Hiban, VII: 425. Dari  Abu Hurairah

اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ وَفَوَضْتُ اَمْرِى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الذِي أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الذِي أَرْسَلْتَ. رواه مسلم، البخاري، احمد، الترمذي، النسائى، ابن حبان، الدارمي. عن البراء
7. Allohumma inni aslamtu nafsii ilaika wa wajahtu wajhii ilaika wa aljatu dhahri ilaika wa fawadltu amri ilaika ragbatan wa rahbatan ilaika la malja wa la manja minka illa ilaika amanntu bikitaabika alladzi anzalta wan nabiyyika alladzi arsalta.
Artinya:
Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu  dan aku menyerahkan urusan diriku kepada-Mu serta kekuatan diriku kepada-Mu, karena harapan dan takut pada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan tempat berlari dari azabMu, kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi yang Engkau utus”.
H.r. Muslim, Sahih Muslim,II: 579, Al Bukhari, sahih Al Bukhari,  I: 1337, , Ahmad, Musnad al Imam Ahmad XXX: 530, At Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi, X: 26, An Nasai, As Sunanul Kubra, VI: 193, Ibnu Hiban, Sahih Ibnu Hiban, VII: 428, Ad Darimi, Sunan Ad Darimi, II: 290. Abu Daud, Sunan Abu Daud, Dari Al Bara bin Azib
Keterangan
Dalam hadis itu diterangkan, Rosulullah saw. bersabada,’Bila seseorang hendak tidur membaca doa ini, ditaqdirkan ia meninggal dunia pada waktu tidurnya itu, maka ia wafat di dalam fitrah.

اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ.
رواه الترمذي، البزار، النسائى، الطبراني، احمد، الطيالسي. عن البراء بن عازب. ورواه الترمذي، البزار، الحميدي. عن حذيفة
8. Alloohumma qinii ‘adzaabaka yauma tab’atsu ‘ibaadak
Artinya:
Ya Allah periharalah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau bangkitkan hanba-hamba-Mu.
H.r. At Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi, V: 439, Al Bazar, VII: 237, An Nasai, As Sunanu Al Kubra,VI: 188, At Thabrani, Al Mu’Jamus Shogir, II: 177, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, XXX : 521, At Thayalisi,I : 97, dari Al Bara bin ‘Azib.
Dan riwayat At Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi, IV: 439, Al Bazar VII: 246, Al Humaidi, I: 210, dari Hudzaifah AlYamani.

Keterangan
Imam At Tirmidzi menyatakan,’Hadisnya hasan shohih”.

اَللّهُمَّ بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِيْ. رواه احمد، النسائي، السنن الكبرى، وعمل اليوم والليلة، ابن أبي شيبة. عن عبد الله بن عمرو
9. Alloohumma bismika robbi wadlo’tu janbii faghfir lii dzanbii
Artinya:
Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu Tuhan kami aku baringkan tubuhku ampunilah dosaku.
H.r. Ahmad, XI: 190, An Nasai, As Sunanul Kubra, VI : 192, dan Amalul Yaumi wal Lailat 1: 455, Alfiyah Ibnu Abu Syaibah, VII : 45, dari Abdullah bin Amr.

Keterangan :
Adapun doa hendak tidur dengan lafal di atas hadisnya dlo’if. Pada riwayat Ahmad dan An Nasai terdapat rowi bernama Huyay bin Abdullah bin Syuraih, yang menurut Al Bukhari,’Fihi Nadhorun” adapun menurut An Nasai,’Ia rowi yang tidak kuat”. Tahdzubul Kamal, VII: 489.
Sedangkan dalam riwayat Ibnu Abu Syaibah terdapat rowi bernama Abdurrahman bin Ziad bin An’um Al Afriqi. Dia dinyatakan dlo’if oleh Ibnu Ma’in. Tahdzibul Kamal, XVII : 102-110.

10. Dianjurkan Sebelum Tidur Membaca:


a. Takbirh 33 X. atau 34 X

b. tasbih 33 x.


c. tahmid 33 x


Adapun hadisnya sebagai berikut.

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهِمَا السَّلاَم شَكَتْ مَا تَلْقَى فِي يَدِهَا مِنَ الرَّحَى فَأَتَتِ النَّبِيّ َ r تَسْأَلُهُ خَادِمًا فَلَمْ تَجِدْهُ … فَقَالَ أَلاَ أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَهَذَا خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ. رواه البخاري
Artinya
Dari Ali, bahwasannya Fatimah ‘alaihas salam mengadu tentang ular yang mengenai tangannya, lalu ia mendatangi Nabi saw. meminta diberikan penbantu, tetapi ia mendapatkannya. Maka Nabi saw. bersabda,’Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua yang lebih baik dari seorang pembantu? Apabila kalian menuju tempat tidur atau sudah berada ditempat tidur (hendak tidur), hendaklah kalian bertakbir sebanyak 33 x, bertasbih 33 x, dan bertahmid 33 x. Maka hal ini lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu. H.r. Al Bukhari, I : 1338.
Selain hadis di atas terdapat pula hadis yang menerangkan dengan tiga puluh empat (34) kali takbir bukan dengan tiga puluh tiga, adapun tasbih dan tahmidnya dengan bilangan yang sama.

…فَقَالَ أَلاَ أَدَلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَاهُ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِيْنَ وَاَحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ لَكُمَا مِمَا سَأَلْتُمَاهُ …
…Maka Nabi saw. bersabda,’Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua yang lebih baik daripada yang kalian minta? Apabila kalian menuju tempat tidur atau sudah berada di tempat tidur (hendak tidur), hendaklah kalian bertakbir sebanyak 34 x, bertahmid 33 x, dan bertasbih 33 x,. Maka hal ini lebih baik bagi kalian berdua daripada sesuatu yang kalian minta …
H.r. Musnad Al Imam Ahmad bin Hanbal, I : 95. Shohih AlBukori, III : 1133, Muslim, IV : 2092, Sunan AlBaehaqi AlKubro, VII : 293, Syarah Ma’annil Atsar, III : 233, dan Musnad AlHumaedi, I : 24

Karena kedua pihak hadisnya sahih, maka kita dapat mengucapkan takbir sebanyak tiga puluh tiga atau tiga puluh empat kali.

11. Dianjurkan Membaca Mu’awwidzat Sebelum Tidur

Yang dimaksud dengan Mu’awwidzat, ialah menbaca tiga surat, yaitu surat al Ikhlas, al Falaq, dan an Nas. Lalu dirapatkan kedua belah tangan ditiup dan kedua tangan itu diusapkan keseluruh badan yang sekiranya terjangkau.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ r كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ . رواه البخاري، ابن حبان، الترمذي، احمد، اسحاق بن راهويه، ابو داود.
Artinya
Dari Aisyah, keadaan Nabi saw. setiap malam apabila menuju tempat tidurnya (hendak tidur), beliau menyatukan kedua telapak tangannya lalu meniup keduanya lalu membaca Qulhuwallah, Qul ‘Audzu birrabbil falaq, dan Qul ‘Audzu birrabbinnas. Lalu beliau mengusapkan kedua telapak tangan beliau pada bagian-bagian yang tejangkau dari seluruh tubuh beliau. Beliau memulai  dari kepala, wajah, dan badan bagian depan. Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali.
H.r. Al Bukhari, I: 1091, Ibnu HibanV XII: 429, At Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi, V: 473, Ahmad, VI: 116, Ishoq bin Rahawaih, II: 281, III: 989, Abu Daud, II: 488.

Keterangan :
Hadis ini menunjukkan bahwa Rosulullah saw. melakukannya setiap malam sebelum tidur, demikianlah menurut Aisyah r.a. Tetapi ada lagi riwayat lain yang menerangkan bahwa beliau melakukan demikian dalam keadaan sakit keras. Pada hadis itu terdapat lafal sebagai berikut :

فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ
Ketika beliau merasa sakit, beliau menyuruh saya untuk melakukannya kepada beliau.

Adapun di dalam riwayat lain dalam riwayatnya Ibnul Mubarak dari Yunus dengan lafal :
فَلَمَّا اشْتَكَى وَجَعَهُ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ طَفِقْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ
Maka ketika beliau merasa sakit (yang beliau terus wafat) Mulailah saya yang meniupkannya.

Perlu diketahui bahwa kedua riwayat ini tidak bertentangan. Artinya beliau melakukannya ketika sehat dan sakitnya. Jadi tidak ada pertentangan pada kedua macam lafal di atas. Dan yang menjadi suatu keistimewaan adalah ketika beliau tidak lagi mampu melakukannya sendiri, beliau menyuruh Aisyah untuk melakukannya pada beliau.

Sumber : Persis.or.id