Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Sunday, 11 July 2010

Tiga Sebab Munculnya Ekstremitas

Sifat tergesa pada manusia sering mencuat saat menginginkan tercapainya tujuan-tujuan besar


إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنُ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَأَبْشِرُوْا - البخاري

“Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama itu melainkan pasti ia (agama) akan mengalahkan orang itu. Maka bersikap lurus, moderat, dan sikapilah dengan gembira (lapang dada).” (Al-Bukhari)

Hadits di atas menegaskan kepada kita bahwa aslinya Islam adalah moderat dan jauh dari ekstremitas. Al-Qur’an dan Sunnah telah menggariskan segala sesuatu yang membuat manusia mencapai kebaikan, kebahagiaan, serta kejayaan dunia dan akhirat. Ada nash-nash yang amat rinci seperti penjelasan mengenai praktik ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Petunjuk untuk ibadah-ibadah seperti itu telah sangat gamblang dan lengkap. Hal lain yang diterangkan secara rinci adalah pembagian harta waris. Siapa yang berhak memperolah harta waris dan berapa bagian untuk masing-masing orang yang berhak itu.

Selain itu, ada pula petunjuk-petunjuk Islam yang bersifat global dan umum. Perinciannya diserahkan kepada ijtihad orang-orang yang berkompeten untuk itu. Yakni para ulama dengan kualifikasi tertentu. Petunjuk yang bersifat global ini banyak berkaitan dengan masalah-masalah muamalah, politik, budaya, dan lain sebagainya. Namun semua itu tidak lepas dari bingkai umum yang telah diberikan oleh Islam.

Tanpa standar itu maka akan terjadi bias dalam penilaian. Bisa saja karena seseorang tidak suka dengan cara temannya berislam –yang belum tentu salah– dicaplah dia sebagai ekstrem. Dan sebaliknya orang yang selalu mengambil pilihan yang sulit dan ‘keras’ akan menuduh orang yang berbeda dengan dirinya sebagai orang yang tidak komit, lembek, dan penakut. Jadi tidak ada Islam ekstrem, yang ada adalah muslim ekstrem. Ini ditegaskan pula oleh Rasulullah saw., “Binasalah mutanath-thi’un.” Beliau mengulangi kalimat itu sampai tiga kali. (Muslim)

Imam Nawawi, dalam kitabnya Riyadhush-Shalihin, menjelaskan kata ‘mutanath-thi’un’ yang ada dalam hadits itu: “Mutanath-thi’un adalah orang-orang yang mendalam-dalami (secara memaksakan diri) dan bersikap keras dalam hal yang tidak seharusnya keras.”

Mengapa muncul sikap memberat-beratkan diri sendiri dalam melaksanakan Islam? Banyak sebab, antara lain:

1. Memahami Syariat Islam secara parsial.

Pemahaman parsial tentang Islam (syariat Islam) mempunyai peran besar dalam memunculkan perilaku ekstrem. Syariat Islam Islam merupakan satu bangunan utuh yang satu komponen dengan lainnya saling menguatkan. Fondasinya akidah dan keimanan. Lantai pertamanya adalah akhlak dan perilaku. Ibadah-ibadah ritual (ta’abbudi) adalah lantai kedua. Lantai ketiganya adalah mu’amalat dengan segala cabangnya. Dan bangunan Islam tidak akan tegak kecuali dengan tegaknya bagian-bagian itu.

Syariat Islam bukanlah hanya berisikan hudud seperti hukum potong tangan, hukum rajam, atau hukum cambuk. Karenanya, dalam kacamata Islam, menegakkan syariat Islam bukan hanya menegakkan hudud itu. Terkait dengan hal ini, Dr. ‘Ali Juraisyah menegaskan, “Bukan hanya dengan hudud syariat Islam ditegakkan. Karena hudud hanyalah bagian dari hukum-hukum mu’amalah. Sedangkan mu’amalah merupakan lantai tiga atau empat dari bangunan syariat. Jadi semata-mata menegakkan hudud atau bahkan mu’amalat secara keseluruhan, sama dengan kita membangun lantai tiga atau empat tanpa lantai satu dan dua, dan tanpa fondasi. Lalu bagaimana bangunan itu akan berdiri tegak?”

Oleh karena itu, pandangan yang mengatakan bahwa Islam hanyalah mengatur urusan pribadi sama kelirunya dengan pandangan yang menyatakan bahwa jihad lebih penting dari shalat, atau sebaliknya. Dan sama salahnya dengan pandangan yang menyatakan bahwa “mendirikan” negara Islam atau Khilafah Islamiyyah adalah lebih penting dari membina akidah dan akhlak, atau sebaliknya. Karena kesemuanya itu adalah merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari integralitas Islam.

Dalam pembahasan iman kepada Allah, misalnya, ada bagian yang oleh para ulama diistilahkan dengan tauhidul-asma wash-shifat (mengesakan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya). Dan tauhid ini merupakan bentuk ketiga tauhid. Yang pertama dan keduanya adalah tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.

Dari situ jelas bahwa akidah bukan saja urusan tauhidul asma wash-shifat. Ia adalah merupakan bagian dari pembahasan iman kepada Allah. Dan iman kepada Allah adalah rukun pertama dari rukun iman. Dan selain mempunyai rukun, iman juga mempunyai cabang-cabang. Dalam urusan ibadah, shalat “hanyalah” satu dari rukun Islam. Dan rukun Islam adalah bagian asasi dari Islam dan bukanlah keseluruhan Islam. Di dalam Islam ada dzikir, ada ukhuwwah, ada khusyu, ada tawadhu’, ada jihad dan seterusnya.

2. Kedangkalan Ilmu.

Semangat saja belum cukup untuk membela Islam. Selain semangat harus ada ilmu. Akibat kedangkalan pemahaman dan tidak menguasai sendi-sendi hukum dalam Islam dapat pula memunculkan ekstremitas. Syaikh Yusuf Qardhawi –semoga Allah menjaganya– untuk menggambarkan hal itu dengan menggunakan istilah dha’ful-bashirati bihaqiqatid-din (lemahnya pemahaman tentang hakikat agama).

Lebih jelasnya beliau menyebutkan, “Yang saya maksudkan bukanlah kebodohan mutlak tentang agama. Kebodohan yang macam itu biasanya tidak memunculkan sikap ekstrem bahkan boleh jadi memunculkan sikap sebaliknya: tidak punya pegangan dan lumer. Yang saya maksudkan justru sepotong ilmu yang dengannya pemiliknya merasa sudah masuk ke dalam kelompok ulama.” (Lihat Ash-Shahwatul-Islamiyyah Bainal-Juhud Wat-Tatharruf, Dr. Yusuf Qardhawi, hal. 64.)

Dari kedangkalan ilmu pula dapat muncul perilaku mudah mengkafirkan orang lain. Pantaslah ilmu dan hujjah mutlak wajib dimiliki oleh para dai. Ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)

3. Terburu Nafsu


Sifat tergesa-gesa pada manusia sering mencuat saat menginginkan tercapainya tujuan-tujuan besar. Baik terkait dengan dunia maupun akhirat. “Apabila untuk mencapainya mengambil jalan pintas dengan cara berlebihan dalam ketaatan dan ibadah sambil berkeyakinan bahwa manhaj Islam yang asli tidaklah cukup dan tidak akan mengantarkan kepada tujuan, maka ini jelas kesalahan besar. Dari sinilah berangkatnya sikap mengharamkan untuk dirinya hal-hal yang jelas-jelas mubah (boleh). Atau mewajibkan untuk dirinya ibadah-ibadah yang hukumnya sunnah,” Kata Dr. Muhammad Zuhaili.

“Hal itu diperburuk dengan sikap membenarkan hawa nafsunya dan merasa bangga dengan apa yang dilakukannya itu sembari beranggapan bahwa jalan yang ia tempuh adalah jalan yang benar. Ini biasanya juga diberangi dengan tudingan bahwa jalan yang ditempuh orang lain adalah jalan yang salah atau kurang,” imbuh Muhammad Zuhaili (Al-I’tidal Fit-tadayyun hal. 11-12).

Sikap isti’jal kerap muncul dan seringkali tampil sebagai ekstremitas. Tidak terkecuali di jalan dakwah. Ini bisa terjadi ketika cita-cita menegakkan kedaulatan Islam tidak dibarengi dengan kesabaran untuk menempuh perjalanan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw. Dr. Sayyid Muhammad Nuh menggambarkan sikap isti’jal itu, “Ia ingin mengubah kondisi atau realita kehidupan kaum muslimin dalam waktu sekejap tanpa mempertimbangkan akibatnya, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi, dan tanpa persiapan yang matang dengan segala uslub dan wasilahnya.” (Terapi Mental Aktivis Harakah, hal. 81)

Jadi, aslinya Islam itu mudah, adil, seimbang, dan wasath (moderat). Orang yang paling moderat adalah yang paling komitmen kepada seluruh ajaran Islam. Dan ekstremitas terjadi justru manakala orang meninggalkan Islam atau menyimpang dari pelaksanaan Islam yang digariskan oleh Rasulullah saw. Allahu A’lam.

Saturday, 10 July 2010

Jadikan Al Quran Bagian Dari Kesibukan Kita

Al Quran merupakan barometer dari Ummat Islam, maju dan mundurnya agama ini tergantung sejauh mana perhatian terhadap Al Quran. Dalam hadits nabi dikatakan "Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Quran dan menurunkan derajat suatu kaum juga dengan Al Quran". Olehnya itu perlu ada perhatian yang lebih banyak terhadap Al Quran mulai dari bacaan, hafalan, pemahaman dan pengamalan.

Badan ini akan membantu dan memudahkan untuk menghafal Al Quran dengan menggunakan sistem dan metode yang disesuaikan bagi semua kalangan dengan pembinaan secara intensif dari para pembimbing yang telah hafal Al Quran.

Fenomena yang selama ini banyak kendala di tengah masyarakat dalam menghafal karena kendala kesibukan. “Sebagai tanda perhatian terhadap Al Qur’an mesti ada waktu khusus dalam sehari untuk Al Qur’an dan bahkan menjadikan Al Quran bagian dari kesibukan sehari-hari,”

Perhatian terhadap Al Quran juga didasari dari hadis Rasulullah “Sebaik-baik diantara kalian adalah yang belajar Al Quran dan Mengajarkannya” dan derajat kita kelak di Akhirat adalah sejauh mana tingkat bacaan Al Quran yang dimiliki.
Mudah-mudahan Al Quran bisa kita jadikan bagian dari kesibukan kita, jangan sampai Al Quran hanya sebagai sampingan bagi kita.

Friday, 9 July 2010

Penjagaan Allah Kepada Yang Beriman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS.Muhammad [47] : 7)

Allah swt telah menjamin penjagaan terhadap orang-orang yang beriman dan membela mereka sebagaimana dinyatakan di banyak tempat (kisah) dalam Al Qur’an.

Diantara kisah – kisah dalam Al Qur’an diantaranya adalah disebutkan dalam surat Al Kahfi tentang beberapa kisah seperti Kisah Ashhabul Kahfi, para pemuda yang beriman pada zaman Romawi yang belum memeluk agama apa-pun-animsme adalah sebagai agama mereka.

Akan tetapi, Allah member petunjuk kepada mereka agar mencari tempat perlindungan di sebuah gua (kahfi) yang jauh dari kota. Hal itu dilakukan bukan untuk melarikan diri dari kenyataan dan dari para penguasa yang zalim, tapi agar mereka dapat beribadah kepada Allah tanpa ada yang menghalangi.

Allah swt dengan rahmatNya telah menghalangi pendengaran mereka dan membuat mereka tertidur selama kurang lebih tiga abad, yaitu pada kurun waktu sirnanya hukum kafir dan animis, dan telah tiba masa hukum yang menghormati dan memuliakan para pengikut agama tauhid. Agar kisah ini tetap terjaga hingga generasi-generasi yang beriman kelak yang mengandung banyak pelajaran dan hikmah.

Sedikit kita melihat pada kehidupan kita sehari-hari, bagaimana penjagaan Allah swt terhadap orang-orang yang beriman. Mungkin anda pernah terjatuh sewaktu mengendarai sepeda motor hingga lutut anda lecet-lecet. Padahal anda sudah sangat berhati-hati, doa berpergianpun tak pernah lupa dan kondisi kendaraan pun layak untuk dipakai. Akan tetapi anda masih terjatuh karena terserempet kendaraan lain.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ


diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah [2]:216)

Tahukah bisa jadi itu adalah bentuk penjagaan Allah swt dari kecelakaan yang lebih besar. Seperti sepasang suami istri yang merindukan kehadiran seorang anak dalam kehidupan mereka, namun setelah sepuluh tahun menikah dan dianugrahi seorang anak namun ternyata tak lama anak tersebut meninggal dunia, bisa jadi itu merupakan bentuk penjagaan Allah swt.

Dalam sebuah kisah seorang anak kecil dibunuh oleh Khidir tanpa ada sebab, sebagaimana yang diduga oleh Musa a.s. ketika dia menyangkal Khidir.

فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

“Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang munkar,” (QS Al Kahfi [18]: 74)

Kemudian dia memberitahu Musa bahwa anak ini telah diketahui Allah dengan ilmuNya terhadap yang ghaib, bahwa saat dia menginjak dewasa akan menjadi orang lalim dan kejam, dia akan menyiksa kedua oangtuanya. Untuk menjaga kemashalatan kedua orangtuanya itu, Allah berkehendak melindungi keduanya dengan menyelamatkan mereka dari anak tersebut:

وَأَمَّا الْغُلامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا -فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا


“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (Q.S Al Kahfi [18]: 80-81).

Walaupun yang tampak pada lahirnya dia adalah anak kecil yang bebas, dan hal ini membuat sedih kedua orangtuanya, tetapi itu lebih baik bagi keduanya tanpa mereka berdua mengetahuinya. Dalam kisah ini, sesuatu yang dapat diambil adalah bahwa Allah akan memberikan sebuah penjagaan kepada siapa saja yang beriman kepada Allah swt. Dan Allah tidak harus menunggu pesetujuan kita untuk melakukan ini, itu karena Allah Maha tau apa yang terbaik untuk kita.

Allah akan menjaga setiap hamba yang menjaga dirinya. Ketika anda berpakaian sopan menutup aurat maka anda sudah menjaga diri anda dari pandangan nafsu yang bisa membahayakan diri anda. Ketika anda menjaga perkataan dalam berucap maka Allah akan melindungi dari tajamnya lidah. Jika anda menjaga cinta yang ada dalam hati yaitu cinta kepada Sang Khaliq, maka Allah akan menjaga cinta itu tetap tumbuh subur dalam diri anda.

Penjagaan Allah teramat indah, pada waktu dan cara yang begitu menakjubkan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan penjagaan Allah swt. Selalu dan seterusnya. Amin. Wallahu a’lam bishawab.

Saturday, 3 July 2010

Mempersiapkan anak yang menyejukkan pandangan

“Dan orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah untuk kami isteri-isteri dan anak keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan: 75)

Imam Ibnu Katsir memahami qurratu a’yun dalam ayat ini sebagai anak keturunan yang taat dan patuh mengabdi kepada Allah. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa keluarga yang dikategorikan qurratu a’yun adalah mereka yang menyenangkan pandangan mata di dunia dan di akhirat karena mereka menjalankan ketaatan kepada Allah, dan memang kata Hasan Al-Bashri tidak ada yang lebih menyejukkan mata selain dari keberadaan anak keturunan yang taat kepada Allah swt.

Secara bahasa, anak dalam bahasa Arab lebih tepat disebut dengan istilah At-Thifl Pengarang Al-Mu’jam al-Wasith mengartikan kata At-Thifl sebagai anak kecil hingga usia baligh. Kata ini dapat dipergunakan untuk menyebut hewan atau manusia yang masih kecil dan setiap bagian kecil dari suatu benda, baik itu tunggal.

Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan anak sebagai keturunan kedua. Disamping itu anak juga berarti manusia yang masih kecil. Anak juga pada hakekatnya adalah seorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa seiring dengan pertambahan usia. Dalam kontek ini, maka anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa (orang tua dan para pendidik).

Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut kata Ath-Thifl yang berarti anak yang masih kecil sebelum usia baligh, maka terdapat empat ayat yang menyebut kata ini secara tekstual. Dua ayat berbicara tentang proses kejadian manusia yang berawal dari air mani, yaitu surah Al-Hajj: 5 dan surah Ghafir: 67. Sedangkan kedua ayat lainnya yang menyebut kata At-Thifl terdapat dalam surah An-Nur : 31 dan 59 yang menjelaskan tentang adab seorang anak di dalam rumah terhadap kedua orang tuanya.

Yang paling mendasar dalam pembahasan seputar anak tentu tentang kedudukan anak dalam perspektif Al-Qur’an agar dapat dijadikan acuan oleh orang tua dan para pendidik untuk menghantarkan mereka menuju kebaikan dan memelihara serta meningkatkan potensi mereka. Al-Qur’an menggariskan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah Allah swt, sumber kebahagiaan keluarga dan penerus garis keturunan orang tuanya. Keberadaan anak dapat menjadi: 1) Penguat iman bagi orang tuanya [QS: 37: 102] seperti yang tergambar dalam kisah Ibrahim ketika merasa kesulitan melakukan titah Allah untuk menyembelih Ismail, justru Ismail membantu agar ayahnya mematuhi perintah Allah swt untuk menyembelihnya, 2) Anak bisa menjadi do’a untuk kedua orang tuanya. [QS: 17: 24], 3) Anak juga dapat menjadi penyejuk hati (Qurratu A’ayun), [QS: 26: 74], 4) menjadi pendorong untuk perbuatan yang baik [QS: 19: 44]. Akan tetapi, pada masa yang sama, anak juga dapat menjadi 5) fitnah, [QS: 8; 28] 6), bahkan anak dapat menjelma menjadi musuh bagi orang tuanya. [QS: 65: 14]

Maka dari itu, para ulama sepakat akan pentingnya masa kanak-kanak dalam periode kehidupan manusia. Beberapa tahun pertama pada masa kanak-kanak merupakan kesempatan yang paling tepat untuk membentuk kepribadian dan mengarahkan berbagai kecenderungan ke arah yang positif. Karena pada periode tersebut kepribadian anak mulai terbentuk dan kecenderungan-kecenderunganya semakin tampak. Menurut Syekh Fuhaim Musthafa dalam karyanya Manhaj al-Thifl al-Muslim: Dalilul Mu’allimin wal Aba’ Ilat-Tarbiyati Abna masa kanak-kanak ini juga merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membentuk pengendalian agama, sehingga sang anak dapat mengetahui, mana yang diharamkan oleh agama dan mana yang diperbolehkan.

Dalam hal ini, keluarga merupakan tempat pertama dan alami untuk memelihara dan menjaga hak-hak anak. Anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang secara  fisik, akal dan jiwanya, perlu mendapatkan bimbingan yang memadai. Di bawah bimbingan dan motifasi keluarga yang continue akan melahirkan anak-anak yang dikategorikan ‘qurratu a’yun’.

Untuk mewujudkan semua itu, maka sejak awal Islam telah menyoroti berbagai hal di antaranya penegasan bahwa awal pendidikan seorang anak dimulai sejak sebelum kelahirannya, yaitu sejak kedua orang tuanya memilih pasangan hidupnya. Karena pada dasarnya anak akan tumbuh dan berkembang banyak tergantung dan terwarnai oleh karakter yang dimiliki dan ditularkan oleh kedua orang tuanya. Di antara tujuan disyariatkan pernikahan adalah terselamatkannya keturunan dan terciptanya sebuah keluarga yang hidup secara harmonis yang dapat menumbuhkan nilai-nailai luhur dan bermartabat.

Dalam konteks ini, Al-Ghazali yang kemudian dikuatkan prinsip-prinsipnya oleh Ibn Qayyim al-Jauzyyah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangatlah penting, oleh kerena itu pelaksanaannya harus dilakukan dengan baik, dengan pembiasaan dan contoh-contoh teladan, memberikan permainan yang wajar dan mendidik, jangan sampai memberikan permainan yang mematikan hati, merusak kecerdasan, menghindarkannya dari pergaulan yang buruk. Pengaruh yang positif diharapkan akan menjadi kerangkan dasar bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Membangun kerangka dasar pada anak usia dini dapat diibaratkan membangun sebuah bangunan bertingkat. Bangunan seperti itu tentu saja akan dimulai dengan membuat kerangka pondasi yang sangat kokoh yang mampu menopang bagian bangunan yang ada di atasnya. Demikian pula anak-anak yang memiliki pondasi yang kuat dan kokoh ketika usia dini maka akan menjadi dasar dan penopang bagi perkembangan anak memasuki pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan hidupnya di tengah masyarakat.

Menurut pandangan Syekh Mansur Ali Rajab dalam karyanya Ta’ammulat fi falsafah al-Akhlaq terdapat paling tidak lima aspek yang dapat diturunkan dari seseorang kepada anaknya, yaitu: 1). Jasmaniyah, seperti warna kulit, bentuk tubuh, sifat rambut dan sebagainya. 2). Intelektualnya, seperti, kecerdasan dan atau kebodohan. 3) tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji, tercela, lemah lembuat, keras kepala, taat, durhaka. 4) alamiyah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran tanpa pengaruh dari faktor eksternal. 5) sosiologis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Ibn Qayyim Al-Jauzyyah dalam salah satu karyanya yang monumental tentang pendidikan anak ’Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud’ menegaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci dan selamat dari penyimpangan dan menolak hal-hal buruk yang membahayakan dirinya. Namun lingkungan yang rusak dan pergaulan yang tidak baik akan menodai kefitrahan anak dan dapat mengakibatkan berbagai penyimpangan dan pada gilirannya akan menghambat perkembangan akal fikirannya. Sehingga tujuan akhir dari dari pendidikan anak prasekolah adalah memberikan landasan iman dan mental yang kokoh dan kuat pada anak, sehingga akan hidup bahagia bukan saja di saat ia dewasa dalam kehidupannya di dunia, tetapi juga bahagia di akherat, bahkan diharapkan dapat mengikut sertakan kebahagiaan itu untuk kedua orang tua, guru dan mereka yang mendidiknya.

Sehingga pendidikan anak usia dini pada hakekatnya juga merupakan intervensi dini dengan memberikan rangsangan edukasi sehingga dapat menumbuhkan potensi-potensi tersembunyi (hidden potency) serta mengembangkan potensi tampak (actual potency) yang terdapat pada diri anak. Upaya mengenal dan memahami barbagai ragam potensi anak usia dini merupakan persyaratan mutlak untuk dapat memberikan rangsangan edukasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan potensi tertentu dalam diri anak. Upaya ini dapat dilalukan dengan memahami berbagai dimensi perkembangan anak seperti bahasa, intelektual, emosi, social, motorik konsep diri, minat dan bakat.

Tujuan lain dari pemberian program simulasi edukasi adalah melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak. Gangguan ini dapat muncul dari dua faktor, yakni faktor internal yang terdapat dalam diri anak dan dan faktor ekternal yang berwujud lingkungan di sekitar anak, baik yang berwujud lingkungan fisik seperti tempat tinggal, makanan dan alat-alat permainan ataupun lingkungan sosial seperti jumlah anak, peran ayah/ ibu, peran nenek/ kakek, peran pembantu, serta nilai dan norma sosial yang berlaku.

Ayat di atas yang menjadi doa sehari-hari setiap orang tua yang mendambakan hadirnya keturunan yang qurratu a’yun, hendaknya dijadikan acuan dalam pembinaan anak, sehingga tidak lengah sesaatpun dalam upaya melakukan pengawasan, pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka. Itulah diantara ciri Ibadurrahman yang disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya yang memilki kepedulian besar terhadap nasib anak-anak mereka di masa yang akan datang. Semoga akan senantiasa lahir dari rahim bangsa ini generasi yang qurratu a’yun, bukan hanya untuk kedua orang tuanya, tetapi juga masyarakatnya dan bangsanya. Amin.

dakwatuna.com

Friday, 25 June 2010

Aib kita adalah cermin diri kita juga

Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga dari Hâtim Al Asham ketika fenomena tayangan “ghibahtainmen” merajalela

oleh: Ali Akbar bin Agil*

ADA seorang perempuan datang kepada Syaikh Hâtim Al Asham untuk bertanya tentang sebuah persoalan. Saat bertanya, tiba-tiba keluarlah suara kentut dari perempuan itu dan ia merasa sangat malu.

“Keraskan suaramu!,” teriak Hâtim dengan keras untuk mengesankan seolah ia tuli.

Si perempuan merasa senang dan mengira kalau Hâtim tidak mendengar suara kentutnya. Karena kejadian itulah, kemudian Syaikh Hâtim mendapat julukan Al Asham (si tuli).

Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga dari Hâtim Al Asham. Kita memperoleh hikmah menutup rapat-rapat keburukan orang lain, tidak mengumbarnya sebagaimana terjadi saat ini, di mana fenomena tayangan ghibahtainmen yang menceritakan kekisruhan rumah tangga orang lain, membeberkan perselingkuhan serta perzinaan, terjadi dengan begitu vulgar dan massif.

Ironisnya, para pemilik modal dan pengelola program tercela ini berkilah jika acara (ghibah) ini dianggap mendidik masyarakat untuk lebih cerdas.

Sebuah alasan yang tidak masuk akal. Alih-alih mencegah, yang terjadi justru masyarakat dijejali oleh berita-berita keburukan orang yang mungkin akan dicontoh oleh mereka. Apalagi pihak bersangkutan yang diwartakan merupakan public figuree.

Tidak berlebihan bila PBNU lewat fatwanya dalam Munas Alim Ulama NU se-Indonesia di asrama Haji Sukolilo, Surabaya (27-30 Juli 2006), menuntut kepada pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informasi, untuk melarang program infotainment yang berisi ghibah alias membeberkan aib orang lain, apakah itu berupa perselingkuhan, perceraian, atau percekcokan rumah tangga, dan sejenisnya.

Fatwa ini perlu direkomendasikan sebagai bentuk pertanggungjawaban para ulama kepada umatnya. Sebab jika keadaan demikian ini dibiarkan begitu saja, lama-lama akan membuat bangsa kita menjadi bangsa penggunjing. Akibatnya, ajang berkumpul sesama teman atau keluarga rasanya kurang afdhal bila tidak dibumbui dengan ngerasani (menggunjing) atau menggosip. Sungguh sebuah dilema yang berbalik seratus delapan puluh derajat dengan apa yang terjadi pada diri Syekh Hatim.

Lantas, bagaimana kita bisa mengetahui aib diri sendiri? Imam Al Ghazali dalam kitabnya yang terkenal, Ihya` `Ulumuddin, mengetengahkan kiat jitu menyingkap kekurangan yang melekat pada diri kita. Beliau menyarankan untuk menempuh empat cara:

Pertama, duduk di hadapan seorang guru yang mampu mengetahui keburukan hati dan berbagai masalah yang tersembunyi di dalamnya. Kemudian ia memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam ber-mujahadah membersihkan aib itu. Ini adalah keadaan seorang murid dengan Syaikhnya dan seorang pelajar dengan gurunya. Sang guru akan menunjukkan aib-aibnya serta cara pengobatannya. Namun, di zaman sekarang guru semacam ini langkah.

Kedua, mencari seorang teman yang jujur, memiliki bashiroh (mata hati yang tajam), dan berpegang pada agama. Ia kemudian menjadikan temannya itu sebagai pengawas yang mengamati keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan lahirnya, sehingga ia dapat memberi peringatan kepadanya. Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang cerdik, orang-orang terkemuka, dan para pemimpin agama.

Ketiga, berusaha mengetahui aib dari ucapan musuh-musuhnya sebab pandangan yang penuh kebencian akan menyingkapkan keburukan seseorang. Bisa jadi manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang sangat membencinya dan suka mencari kesalahannya lebih banyak dari teman yang suka bermanis muka, memuji dan menyembunyikan aib-aibnya. Akan tetapi, sudah menjadi watak manusia untuk mendustakan ucapan musuh-musuhnya dan menganggapnya sebagai ungkapan kedengkian. Hanya orang yang memiliki mata hati jernih yang mampu memetik pelajaran dari keburukan dirinya yang disebutkan oleh musuhnya.

Keempat, bergaul dengan masyarakat. Setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, maka ia segera menuduh dirinya sendiri yang juga memiliki sifat tercela itu. Kemudian ia menuntut dirinya untuk segera meninggalkannya. Sebab, seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain ia akan melihat aib-aibnya sendiri. [*penulis mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Maliki Malang]

Sumber : Persis67Benda

Wednesday, 23 June 2010

Sunnah dan Bid'ah

Sabda Rasulullah SAW "Siapa yang hidup diantaramu setelah aku tiada, pastilah ia akan melihat banyak ikhtilaf (perbedaan dalam aqidah dan ibadah). Aku perintahkan kepadamu agar berpagang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk. Berpeganglah kepadanya dengan sekuat kemampuanmu. Hati-hatilah dengan perkara yang baru, sebab setiap perkara yang baru dalam islam adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat" (HR. Ahmad, Abu dawud dan At Tirmidzi)

Pengertian Sunnah

Sunnah artinya jalan, cara, metode, perilaku, hukum, peraturan, tabiat, watak. Bentuk jamaknya (banyaknya) adalah sunan. Sunnatullah adalah hukum yang ditetapkan Allah, misalnya bumi berputar dan sebagainya. Syariat Islam termasuk sunnatullah, siapa yang melaksanakannya ia akan mendapat pahala surga. Siapa yang meninggalkannya ia akan beroleh siksa neraka. Perintah Allah ini tidak akan berubah sampai kapan pun. Frimannya

"Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan penggantian bagi sunnatullah, dan sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan penyimpangan pada sunnatullah." (QS. Fathir : 43)

Sedangkan yang dimaksud dengan sunnah Nabi SAW atau sunnah Rasul SAW adalah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW berupa ucapan, perbuatannya, dan pengakuannya. Adakalanya sunnah disebut juga Hadits. Adalagi sunnah yang sering disebut sunnat dalam arti hukum Islam ; bila dikerjakan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak mendapat siksa. Yang dimaksud dengan sunnah pada tulisan ini adalah amal-amal Nabi Muhammad SAW yang harus diikuti oleh setiap muslim yang hukumnya wajib maupun yang hukumnya sunnat. Seperti ibadah shalat, makan dan minum dengan tangan kanan. Adakalanya tidak disebutkan bahwa Rasulullah SAW berbuat sesuatu, namun sahabat menyebutnya "termasuk sunnah". Misalnya ucapan Ibnu Abbas r.a

"Termasuk sunnah agar tidak memulai ihram haji kecuali pada bulan haji (Syawal, Dzul qa'dah dan Dzul hijjah)." (HR al-Bukhari)

kebalikan dari sunnah Nabi SAW adalah bid'ah

Perintah melaksanakan sunnah Nabi SAW

"Katakanlah (Muhammad), "jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah itu maha Pengampun lagi maha Penyayang." (QS. Ali-Imran : 31)

Katakanlah "Taatlah kamu kepada Allah dan Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang kafir." (QS. Ali-Imran : 32)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa : 59)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab : 21)

Sabda Rasulullah SAW :

"Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang abaa (menolak)."
para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah siapa yang abaa?"
jawab beliau,
"Siapa yang mentaatiku (melaksanakan sunnahku) ia akan masuk surga, dan siapa yang maksiat kepadaku (tidak melaksanakan sunnahku), sungguh ia telah menolak." (HR. Al-bukhari)

Sabda Rasulullah SAW :

"Aku tinggalkan padamu dua perkara, kamu tidak sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnha Nabi-Nya." (HR. Ibnu Abdil Barr)

"Siapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku" (HR. Al-Bukhari)

Pengertian Bid'ah

Bid'ah menurut bahasa artinya "sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya. Salah satu nama Allah adalah Al-Badi' artinya Maha Pencipta. Dia menciptakan segala sesuatu yang baru, yang tidak ada sebelumnya. Bid'ah disebut juga muhdats atau muhdatsatul umur yakni perkara-perkara yang baru yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW atau oleh para sahabatnya.

Sedangkan menurut istilah, bid'ah ialah " sesuatu yang baru di dalam agama yang tidak pernah disyari'atkan oleh Allah dan Rasul-Nya "atau" satu cara yang diadakan atau dibuat oleh orang di dalam Islam yang menyerupai syari'at dengan tujuan beribadah kepada Allah. (Al Iqtidlo, syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah , Al 'Itisham, Imam Asy-Syatibi).

Alasan orang melakukan bid'ah karena ingin mendapat pahala. Misalnya melfalkan niat sebelum shalat padahal Nabi SAW dan para sahabatnya seorang pun tidak ada yang melakukanya. Andaikan perbuatan itu baik tentu mereka melakukannya.

Padahal yang dimaksud dengan ibadah ialah "Segala sesuatu yang dicintai dan diridloi oelh Allah baik perkataan atau perbuatan yang lahir dan yang batin." Bila ingin dicintai Allah, harus mengikuti petunjuk Rasul-Nya, karena beliaulah satu-satunya contoh yang baik.

Bid'ah atau aqidah atau keyakinan disebut syirik. Syirik ialah berkeyakinan bahwa makhluk mempunyai kekuatan ghaib.Misalnya orang yang berkeyakinan bahwa hajar aswad dapat memberikan kekuatan sehingga ia menaruh hormat kepadanya seperti halnya kepada manusia. Atau berkeyakinan bahwa kuburan Nabi adalah tempat keramat, sehingga banyak orang yang meminta-minta di atasnya.

Ancaman bagi para pelaku Bid'ah

Sabda Rasulullah SAW :

"Siapa yang mengamalkan ibadah yang bukan perintahku, maka ibadahnya akan tertolak, (HR. Muslim)

"Siapa yang hidup diantara kamu sesudahku (sepeninggalku), niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglah kepadanya dan gigitlah dengan gigi gerahammu (peganglah dengan kuat) dan jauhilah olehmu segala urusan yang baru (muhdats). Karena sesungguhnya setiap urusan yang baru itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat" (HR. Ahmad , Abu Dawud, Tirmidzi, ibnu Majah)

... Amma ba'du maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Dan sejelek-jelek urusan adalah urusan baru (muhadats) dan setiap muhadats adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya neraka. (HR Ahmad, Muslim, an-Nasai, dan Ibnu Majah)

Sabda Rasulullah SAW :

"Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari pelaku setiap bid'ah"

Asal mula timbulnay bid'ah

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan yang lainnya diceritakan, bahwa ada tiga rombongan sahabat yang mengunjungi rumah-rumah Rasulullah SAW. Mereka bertanya kepada Isteri-isteri beliau tentang ibadah Nabi SAW. Setelah mendengar penjelasan apa saja yang dilakukan beliau, ketiga rombongan itu berkesimpulan bahwa ibadah mereka itu sedikit bila sama dengan ibadah beliau. Ibadah beliau itu sedikit, karena beliau sudah di jamin masuk surga dan diampuni segala dosanya, mengingat QS. Al-Fath : 1-2
Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, suapay Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.

Berkatalah seorang diantara mereka, "saya akan shalat sepanjang malam selamanya." Seorang lagi berkata "kalau saya, akan shaum sepanjang tahun, tidak akan terlewat satu hari pun." Sedangkan yang lainnya berjanji "Saya akan menjauhi wanita, dan akan membujang selamanya."
Setelah semuanya bertekad akan menambah iabdah melebihi ibadah Nabi SAW, beliau datang seraya bersabda

"Kamu yang berkata "begini", "begitu". Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut kepada Allah daripada kamu, dan paling taqwa kepada-Nya di antaramu, tapi aku shaum dan tidak shaum, aku shalat dan tidur, dan aku pun menikahi perempuan-perempuan. Siapa yang tidak suka sinnahku, ia bukan dari golonganku." (HR. Al-Buhari, muslim, dan An-nasi)

Dari cerita di atas, jelas bahwa keinginan untuk menambah ibadah sudah ada pada masa Rasulullah SAW, malahan mereka berterus terang di hadapan beliau. Tetapi cara itu tidak dibenarkan beliau, bahkan diancam dengan pernyataan bukan ummatnya.

Ketika Rasulullah SAW masih hidup, yang berbuat menyimpang mendapat teguran langsung dari beliau. Pada zaman khalifah Abu Bakar Umar r.a kaum muslimin masih takut berbuat di luar ketentuan syari'at. Setelah khalifah Usman r.a wafat, timbullah provokator yang dimotori abdullah bin Saba, seorang yahdi yang licik dengan membuat hadits-hadits palsu untuk kepentingan politik dalam rangka memecah belah kesatuan umat Islam. Karena hadits tidak seperti Al-Quran yang ditulis sejak diturunkannya dan di bukukan pada masa khalifah Abu Bakar, muncul madzhab (pendapat) dari para Imam hanya sekedar pendapat menurut pikirannya sebelum mereka pmendapatkan hadits yang shahih, tetapi oleh para pengikut dan murid-muridnya pendapat (madzhab) gurunya dianggap hadits. Padahal Imam yang empat telah memperingatkan pengikutnya agar jangan taqlid kepada mereka. Bahkan Ima Asy-Syafi'i menulis, "Apabila kamu mendapatkan dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, maka berpeganglah kepada sunnah Rasulullah SAW dan tinggalkanlah pendapatku." Ia dan Imam Abu Hanifah menyatakan,

"apabila hadits itu shahih, itulah madzhabku"

Sesungguhnya mereka sangat hati-hati, karena setiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah. Para pembuat bid'ah dan pengikutnya pun harus bertanggungjawab, mengapa mereka mengada-ada ibadah di luar perintah Allah dan contoh Rasul-Nya? Para pembuat bid'ah untuk melegalkan perbuatannya, tidak tanggung-tanggung membuat hadits palsu, mengatasnamakan Nabi SAW. Padahal beliau mengancam :

"Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka siap-siaplah ia mengambil tempat dari api neraka." (HR. jamaah/para ahli hadits)

bila kita ragu menilai sebuah ibadah antara sunnah (mandub) dan bid'ah, maka tinggalkanlah, karena berbuat bid'ah adalah dosa besar.