Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Sunday, 11 July 2010

Catatan Penting ISRA MI'RAJ

Ada dua faktor utama sebab timbulnya bid'ah, pertama akal, yang kedua perasaan. Dan kedua faktor tersebut satu dengan yang lainnya selalu saling menguatkan. Karena mudah dimengerti oleh akal lalu oleh perasaannya orang menganggap hal tersebut terasa pantas dan layak untuk dilakukan. Padahal ibadah merupakan bagian dari perkara ghaib yang wajib kita beriman kepada contoh Rasulullah SAW dalam mengamalkannya.

Aisyah ummul mukminin pernah menceritakan, bahwa pernah ada tiga orang sahabat yang sengaja meminta data-data tentang ibadah keseharian Rasulullah SAW kepada isteri-isteri beliau. Setelah itu mereka berkumpul di masjid dan mengevaluasi semua data yang mereka terima tersebut, lalu mereka memutuskan tiga sikap ; yang pertama menyatakan, bahwa ia akan melakukan shalat malam semalam untuk terus menerus sehingga rela mengorbankan waktu tidurnya. Adapun yang kedua menyatakan, bahwa ia akan shaum terus menerus. Dan yang terakhir memutuskan untuk tidak menikah karena khawatir akan terganggu konsentrasi ibadahnya. Lalu ketika Rasulullah SAW pulang, aku menceritakan semua kejadian tersebut dan ternyata beliau amat marah mendengar laporan tersebut sehingga beliau segera pergi ke masjid untuk menemui mereka. Beliau berkata "Apakah kalian menyatakan anu dan anu?! "mereka menjawab : "benar wahai Rasulullah, karena kami merasa tidak seperti keadaan engkau. Sungguh Allah telah mengampuni semua dosamu! sedangkan keadaan kami tidak demikian!" mendengar alasan mereka Rasulullah SAW marah lalu bersabda : "Sesungguhnya orang yang paling takwa dan mengetahui kepada Allah itu adalah aku!" (HR al-bukhary)

Dari riwayat di atas dapat kita ambil istidlal, bahwa untuk urusan ibadah, akal dan perasaan tidak dapat kita jadikan standar dan landasan untuk mengamalkannya. Karena baik menurut akal dan pantas menurut perasaan belum tentu baik dan benar menurut Rasulullah yang telah diberi SK oleh Allah untuk mengajarkan dan menyampaikan kembali cara ibadah yang Allah perintahkan.

Oleh karena itu setelah beliau pulang dari isra dan mi'raj-nya, beliau tidak melakukan shalat apapun, padahal dari peristiwa tersebut beliau telah mendapatkan tuntutan untuk mendirikan shalat yang lima waktu, mengapa demikian??

Ternyata alasannya satu, karena beliau belum mendapatkan penjelasan secara rinci menganai waktu dan cara shalat tersebut. Maka pada saat matahari tergelincir (waktu dzuhur), malaikat jibril datang menemui beliau dan mengajarkan shalat secara praktik yang lalu diikuti oleh Nabi dan beliau diikuti oleh orang-orang, dan begitu seterusnya sampai sempurna kelima waktunya diajarkan dan dicontohkan oleh malaikat jibril (Fathul Baari 2 : 5)

Oleh karenanya Nabi SAW secara diplomatis menyatakan : "Shalatlah kalian sebagaimana kalian mengethui aku shalat". Karena sesungguhnya aku tidak melakukannya karena akal dan perasaanku pribadi tetapi karena akupun iman terhadap wahyu yang aku terima. Dan akhirnya beliau menyatakan dengan tegas dan jelas "Siapa saja yang beramal (termasuk Nabi) yang tidak berdasarkan urusan kami (wahyu) maka pasti amalnya tertolak"

Saturday, 10 July 2010

Jadikan Al Quran Bagian Dari Kesibukan Kita

Al Quran merupakan barometer dari Ummat Islam, maju dan mundurnya agama ini tergantung sejauh mana perhatian terhadap Al Quran. Dalam hadits nabi dikatakan "Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Quran dan menurunkan derajat suatu kaum juga dengan Al Quran". Olehnya itu perlu ada perhatian yang lebih banyak terhadap Al Quran mulai dari bacaan, hafalan, pemahaman dan pengamalan.

Badan ini akan membantu dan memudahkan untuk menghafal Al Quran dengan menggunakan sistem dan metode yang disesuaikan bagi semua kalangan dengan pembinaan secara intensif dari para pembimbing yang telah hafal Al Quran.

Fenomena yang selama ini banyak kendala di tengah masyarakat dalam menghafal karena kendala kesibukan. “Sebagai tanda perhatian terhadap Al Qur’an mesti ada waktu khusus dalam sehari untuk Al Qur’an dan bahkan menjadikan Al Quran bagian dari kesibukan sehari-hari,”

Perhatian terhadap Al Quran juga didasari dari hadis Rasulullah “Sebaik-baik diantara kalian adalah yang belajar Al Quran dan Mengajarkannya” dan derajat kita kelak di Akhirat adalah sejauh mana tingkat bacaan Al Quran yang dimiliki.
Mudah-mudahan Al Quran bisa kita jadikan bagian dari kesibukan kita, jangan sampai Al Quran hanya sebagai sampingan bagi kita.

Friday, 9 July 2010

Pertanyaan Imam Ghazali Kepada Murid-muridnya

IMAM Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya: “ Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?” Masing-masing muridnya, menjawab: guru, teman, kaum kerabat, isteri atau suami. Imam Ghazali, berkata: ‘Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah mati. Sebab itu janji Allah, bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surat Ali-Imran :185).


Imam Ghazali bertanya lagi: “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini? Masing-masing menjawab, bulan, bintang dan matahari. Imam Ghazali membenarkan semua jawaban itu lalu berkata: yang paling tepat ialah masa lalu. Dengan apapun kemudahan kita, manusia tidak bisa kembali kepada masa lalu. Sebab itu kita perlu menjaga dengan teliti hari ini, esok dan akan datang dengan perbuatan yang dituntut agama Islam.”
Bertanya lagi Imam Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?” Berbagai jawaban yang munasabah diterima daripada anak muridnya dan ia membenarkannya, namun berkata, jawaban paling tepat ialah hawa nafsu (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

Imam Ghazali bertanya lagi: “Apa yang paling berat di dunia ini?” Anak muridnya menjawab dan Imam Ghazali mengiyakan, namun berkata: “Perkara yang paling berat di dunia ialah memegang amanah (Surat Al-Azab : 72). Tumbuh-tumbuhan, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.

Imam Ghazali bertanya: “Apakah perkara yang paling ringan di dunia ini?” Beliau menerima jawaban dan berkata: “Semua jawaban kamu itu benar, tetapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.”

Imam Ghazali bertanya, “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?” Murid-Murid dengan serentak menjawab: “Pedang”. Imam Ghazali membenarkan jawaban itu, namun berkata: “Paling tajam ialah lidah manusia karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukakan perasaan orang lain.”

Itulah sejumlah pertanyaan dan jawaban yang di lontarkan Imam Ghazali kepada murid-muridnya, mudah-mudahan kita bisa memahami apa yang telah kita baca ini, dan membuat kita lebih baik lagi.

Piala Dunia VS Piala Akhirat

Baru-baru ini kita sudah menyaksikan piala dunia yang menyerang keseluruh penduduk penjuru dunia, bukan demam karena nyamuk atau virus, tetapi demam karena piala dunia. Kalau mbah surip berkata "bangun tidur, tidur lagi, kini dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi talk about "Piala Dunia".

Apabila melaihat status di facebook atau twitter, tengah malam selalu ada yang mengupdate yang tidak lain adalah tentang piala dunia. Hebat bener piala dunia, bagaimana dengan piala Ahirat????
Alarm berbunyi setiap pukul 01.00 dini hari, tapi ketika bangun cepat-cepat ambil remot TV lalu nongkrong di depan TV, tanpa ada rasa ngantuk sedikitpun, great, hebatnya bener piala dunia, padahal siapa yang dapat piala dunia????? apakah kita yang menontonnya?????

Artikel ini bukan melarang kalian yang suka nonton piala dunia, tidak sama sekali, hanya mengingatkan saja jangan sampai piala dunia mengalahkan piala akhirat. OK. Jangan sampai alarm sudah terpasang, tepat pukul 01.00 teng berbunyi membangunkan diri yang terlelap dari tidur hanya untuk menonton sepak bola, dan seketika langsung terbangun, lempar selimut dan nyalain TV, dengan penuh rasa takut pertandingan sudah mulai dan ketinggalan jika gol di detik detik awal terjadi, sampai lupa cuci muka langsung duduk manis didepan TV, ditemani teh hangat dan sebungkus kacang , kemudian bisa jadi LUPA dengan tahajud.
Sekali lagi hebat banget piala dunia, dan jika itu terjadi kita benar-benar sudah memberikan kemenangan kepada dunia. Padahal yang seharusnya alarm itu ditujukan untuk membangunkan kita qiyamul lail, membasuh wajah dengan wudhu, menggelar sajadah, mengenakan mukena dan menghadirkan jiwa kita pada ALLAH swt. Bukan untuk menonton tim kesebelasan Negara favorit berlaga.

Kita tidak boleh kalah sama ramenya piala dunia, kita tetep harus mempertahankan piala akhirat, yang tentu saja menjadi prioritas utama kita. Namun, apakah semenjak adanya piala dunia shalat malam kita tetep khusyu? Seseorang berkata kepada saya, katanya semenjak ada piala dunia ini shalat malam menjadi tidak khusyu, kesunyian malam yang biasanya digunakan untuk untuk bermesraan dengan Allah swt kini terganggu oleh tiupan terompet supporter dari bumi Afrika, dua rakaat tahajud merasa sudah cukup karena nanti akan disambung lagi pada waktu jeda istirahat, tapi itupun tak dilakukan untuk shalat karena perut teriak kelaparan dan minta diisi, jadinya lewat lagi tahajud, mengaji yang biasa dilakukan jelang subuh kini lalai karena pertandingan belum usai juga dan rasa penasaran terus membayangi kalau nggak nonton sampai selesai.

Jadi bagaimana solusinya?

Mari kita renungkan ayat dari QS.As Sajdah (32) :

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ (١٢)وَلَوْ شِئْنَا لآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (١٣)فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٤)إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ (١٥)تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (١٦)فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ



12. Dan, jika Sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin."
13. dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah Perkataan dari padaKu: "Sesungguhnya akan aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama."
14. Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan Pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.
15. Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud[1192] seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.
16. lambung mereka jauh dari tempat tidurnya[1193] dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.
17. tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.

[1192] Maksudnya mereka sujud kepada Allah serta khusyuk. Disunahkan mengerjakan sujud tilawah apabila membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang seperti ini.
[1193] Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.

Seperti halnya janji-janji Allah bahwa, nikmat yang menanti di akhirat, kekal dan indah hingga kita melupakan keindahan yang ada di dunia. Nonton bola ok, tapi shalat malam dan ibadah lainnya juga harus ok. Jika piala dunia menghasilkan kebahagiaan yang luar biasa meskipun kita tidak mendapatkannya langsung, bagaimana dengan piala akhirat yang menanti kita, dimana kita bisa merasakannya langsung.

Sungguh Dahsyat!!! Tapi biasanya kalau sudah falling in love sama ALLAH jadi gak minat nonton bolanya karena keasyikkan dzikir, keasyikkan shalat, keasyikan mengaji, sungguh ALLAH tidak pernah dusta bahwa dalam hati tidak bisa terisi kebaikan dan ketidak baikan bersama sama, kan gak bisa tahajud sambil nonton bola, atau nonton bola sambil tahajud.

Thursday, 8 July 2010

Janji Kemenangan Islam Kapan Terwujud?

Oleh A Ilyas Ismail

Meskipun banyak problem yang dihadapi umat, banyak pakar merasa optimistis tentang masa depan Islam. Sayyid Quthb, tokoh pergerakan Islam, sangat yakin dan optimistis bahwa umat Islam akan meraih kebangkitan dan kemenangan pada masa mendatang. Ia menulis buku yang cukup terkenal dan berjudul al-Mustaqbal li Hadza al-Din (Masa Depan Milik Agama [Islam] Ini).

Seperti Sayyid Quthb; ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, juga memiliki optimistis yang sama. Hal ini dapat dibaca dalam dua bukunya, al-Islam Hadharat al-Ghadd (Islam Peradaban Masa Depan) dan al-Mubasysyirat bi Intishar al-Islam (Kabar Gembira tentang Kemenangan Islam).

Dalam buku yang terakhir ini, al-Qaradhawi menunjukkan fakta-fakta yang sangat kuat tentang janji kemenangan Islam, baik berdasar Alquran, sunah, fakta sejarah, dan hukum-hukum sejarah (sunnatullah). Dalam Alquran, begitu banyak janji kemenangan itu, antara lain, keunggulan Islam (QS Attaubah [9]: 32), kekuasaan secara politik (QS Annur [24]: 55), dan kemenangan bagi para pejuang Islam (QS Alhajj [22]: 40-41).

Dalam hadis, diterangkan bahwa pada suatu hari, umat Islam akan mengalahkan musuh-musuh mereka, terutama orang-orang Yahudi. Pada hari itu, orang-orang Yahudi akan lari terbirit-birit dan bersembunyi di balik pepohonan dan bebatuan, tetapi mereka tidak dapat melepaskan diri dari kejaran kaum Muslim (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam sejarah, umat Islam telah menunjukkan keperkasaannya mengalahkan semua kekuatan yang ada pada waktu itu, baik di timur maupun di barat. Umat Islam, kata al-Qaradhawi, keluar sebagai pemenang dalam perang melawan kaum murtad, perang melawan bangsa Tartar, perang melawan kaum salib, dan perang melawan penjajahan Barat (perang kemerdekaan).

Kemenangan itu memang diputar dan digilir oleh Allah SWT. Pada masa lalu, kemenangan di tangan Islam bergeser dan berpindah ke Barat. Sekarang, kita harus merebut kembali kemenangan itu. Tentu saja, direbut dengan perjuangan, kerja keras, kerja cerdas, serta izin dan pertolongan dari Allah SWT.

Tanda-tanda kemenangan itu dimulai dengan perkembangan Islam di negeri-negeri Barat, bangkitnya pemuda Islam dan pergerakan Islam, hingga makin gencarnya serangan dari musuh-musuh Islam terhadap para pejuang Islam lantaran mereka takut dan cemas dengan kebangkitan Islam.

Lalu, kapan janji kemenangan itu terjadi? Rasulullah dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata,"Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS Albaqarah [2]: 214). Wallahu a'lam.

Wednesday, 7 July 2010

Kedahsyatan efek berbaik sangka



Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Selain doa dan ikhtiar, ada amalan lain yang juga bisa mengantarkan proses 'perubahan takdir'. Amalan itu adalah amalan hati, yaitu selalu berbaik sangka (husnuzhan) dengan semua keputusan Allah SWT. Berbaik sangka merupakan produk dari olahan kekuatan iman. Tidak mungkin seseorang memiliki kemuliaan akhlak berupa husnuzhan, jika tidak yakin dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan Allah.

Seseorang yang mengaku beriman sadar benar bahwa dari setiap peristiwa maka Allah telah mentransformasikan mutiara hikmah untuk manusia. Yakni, sesuatu yang berharga yang hilang milik orang beriman (al-Hikmatu zhalatul mu'minin). Artinya, kejadian yang menimpa kita, pasti ada kadar atau nilai berharga yang sudah dipersiapkan untuk kita. Namun, sementara ini belum ditemukan. Karena itulah, kata Imam Ali karramallahu wajhah, ''Jika kita menemukannya, segeralah diambil; fain wajadaha akhadzaha.''

Pertanyaannya, bagaimana bisa mengambil barang berharga itu, sementara kita sulit untuk mendeteksinya. Di sinilah peranan amalan hati, yaitu husnuzhan. Jika kita mempersangkakan bahwa ada banyak kebaikan yang telah Allah sediakan untuk kita dari takdir-Nya itu, akan benarlah persangkaan kita.

Karena itu, bagaimana rupa takdir kita ke depan, turut ditentukan dari persangkaan kita terhadap-Nya. Simak Hadis Qudsy berikut, Anaa 'inda zhanni 'abdi bih, wa Ana ma'aka idza da'awtani, "Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku tentang Aku. Dan aku bersamamu jika memohon kepada-Ku."

Dengan demikian, husnuzhan bisa mengantarkan seseorang meraih apa yang diharapkan. Kalaulah saat ini kita sedang berduka karena kegagalan, bersegeralah husnuzhan bahwa akan ada kebaikan setelah kegagalan itu. Yakinlah bahwa takdir kita ke depan pasti dipenuhi dengan takdir kesuksesan. Tetaplah optimis. Selama hari masih menjelang, kesempatan meninggalkan kegelapan malam masih selalu terbuka. Dan, kita akan berada di jalur siang yang terang benderang.

Keberuntungan orang yang husnuzhan, tak hanya didapatkan di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Rasul menyebut orang yang husnuzhan sebagai pemegang kunci surga. Dalam sebuah taklim di hadapan para sahabatnya, Rasul mengatakan bahwa sebentar lagi akan masuk seorang yang kelak akan memegang kunci surga. Semua sahabat terpana. Sampai seorang Umar bin Khattab 'iri' dengan penyematan istilah tersebut. Tidak lama kemudian masuklah orang yang dimaksud.

Orang ini penampilannya biasa-biasa saja. Tidak ada ciri khusus. Karena penasaran, Umar meminta izin untuk menginap di rumah orang tersebut. Tiga hari Umar RA menginap di rumah orang ini. Namun, dia tidak menemukan amalan khusus orang tersebut.

Ketika Umar bertanya, apa rahasianya. Orang itu menjawab, "Ibadah dan amalanku sebenarnya biasa saja, wahai Umar. Hanya selama hidupku, aku diajari oleh ibuku untuk tidak punya perasaan buruk sangka terhadap apa pun dan siapa pun. Barangkali itulah amalan yang dimaksud Rasulullah SAW."

Republika.co.id

Tuesday, 6 July 2010

Badai debu memberi gizi kepada laut

Beberapa waktu belakangan, penduduk di kawasan Teluk seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab dipusingkan dengan badai debu. Tidak hanya menyirami rumah-rumah mereka dengan pasir, dan membuat langit kelabu, badai juga mengganggu sinyal telekomunikasi dan menimbulkan masalah kesehatan.


Namun di balik itu semua, sesungguhnya badai debu sangat bermanfaat bagi kelangsungan  kehidupan bumi, terutama laut. Hal ini ditegaskan oleh hasil penemuan seorang ilmuan dari Universitas Uni Emirat Arab.


Dr. Waleed Hamza, Kepala Departemen Biologi Universitas UAE, mengatakan bahwa badai merupakan transportasi vital pengiriman nutrisi dari daratan ke lautan, yang menjadi basis ekosistem laut yang produktif.


"Teluk Arab secara biologi dikenal sebagai badan air yang produktif, tapi tidak ada yang tahu dari mana datangnya nutrisi yang diperlukan," katanya seperti dikutip The National (3/7).


Biasanya, kesuburan laut tergantung dari nutrisi yang didapat dari darat lewat aliran sungai atau hujan. Zat-zat gizi itu diperlukan laut untuk pertumbuhan bakteri dan ganggang, yang menjadi komponen utama rantai makanan dalam ekosistem laut. Sementara Teluk Arab sangat sedikit mendapatkan air sungai dan jarang terjadi hujan.


Sepertinya, peranan untuk membawa nutrisi ke laut digantikan oleh angin. Demikian kata Dr. Hamza yang akan mempresentasikan temuannya di  International Congress on Environmental Modelling and Software di Kanada, Kamis mendatang.


Dr. Hamza bersama dengan para ilmuan dari Universitas Max Planc, Jerman, mencatat frekuensi dan intensitas badai yang terjadi di Uni Emirat Arab selama 12 bulan, dimulai dari Oktober 2008. Mereka juga mengumpulkan 172 sampel dari seluruh badai debu. Berdasarkan data itu mereka bisa memperkirakan jumlah debu pasir yang diterbangkan ke Teluk Arab setiap tahunnya, yaitu sekitar 5,5 juta ton.


"Itu artinya, setelah 20 hingga 40 tahun, Teluk akan penuh," kata Dr. Hamza.


Partikel-partikel yang diteliti diukur dengan satuan mikron. Satu mikron sama dengan 1/1.000.000 meter atau 1/25.000 inci.


Tapi dengan ukuran yang hanya 10 hingga 25 mikron, partikel-partikel debu yang dihembuskan ke Teluk Arab sangatlah lembut, dan sebagian besarnya akan terseret arus laut. Meskipun demikian, hal itu cukup untuk memberikan efek terhadap komposisi kimia air laut.



"Kami menemukan, debu-debu ini memperkaya Teluk Arab dengan banyak zat besi, fosfor dan nitrogen," jelas Dr. Hamza.


Sampel debu diambil dari berbagai pasir dan bebatuan yang terdapat antara lain di Empty Quarter, Gunung Hajar dan sabkha yang kaya mineral di pantai Abu Dhabi. Sabkha adalah dataran yang terletak di antara gurun pasir dan laut, yang terbentuk di tepian laut dangkal dan kering karena penguapan air. Sabkha banyak terdapat di kawasan pantai Afrika Utara dan Arab.


Setelah diteliti, sampel-sampel itu ternyata mengandung zat besi, fosfor, nitrogen, belerang dan nikel. Zat-zat nutrisi itu akan larut ke dalam air bersama dengan partikel debu yang terbawa arus. Semakin dalam partikel debu tenggelam, semakin dalam pula larutan gizi itu meresap ke lautan.



Hasil penelitian Dr. Hamza yang dipublikasikan pada tahun 2008 menunjukkan, nutrisi yang dibawa partikel debu merangsang pertumbuhan ganggang laut. Ia juga akan melanjutkan penelitiannya atas bakteria laut.


"Sebagai langkah selanjutnya, kami berusaha untuk melihat bagaimana bakteria membawa materi-materi ini dan mengubahnya menjadi karbon organik, serta bagaimana mereka masuk ke dalam sistem sehingga bisa meningkatkan produktivitasnya."


Temuan Dr. Hamza itu sejalan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh ilmuan Inggris pada tahun 2006. Mereka ketika itu menegaskan bahwa debu dari Gurun Sahara, sekitar 500 juta ton setahun, menyuburkan samudera Atlantik, sehingga menghasilkan plankton dalam jumlah yang sangat banyak.


Dr. Faiza Al-Yamani dari Kuwait Institute for Scientific Research juga telah lama meneliti hubungan antara angin dan kesuburan Teluk Arab.



Dalam paper yang diterbitkan bulan ini di Journal of Marine Systems, Dr. Al-Yamini bersama dengan beberapa koleganya beranggapan, tingginya pemupukan oleh debu kemungkinan memberikan kontribusi atas melimpahnya jumlah ganggang laut pada tahun 2008.


Fenomena melimpahnya ganggang laut di Teluk Arab itu dikenal dengan gelombang pasang merah, karena warna laut di Furaijah dan Khor Fakkah dipenuhi oleh ganggang berwarna merah. Kondisi tersebut sempat mengganggu industri perikanan Uni Emirat Arab dan desalinasi tanaman dari bulan Agustus 2008 hingga Maret 2009.


Dr. Hamza memberikan pendapat serupa tentang fenomena itu. "Tahun 2008, kita mengalami badai debu yang paling intensif di negara ini dalam 10 tahun," katanya. "Tingginya input debu dan tingginya intensitas angin berarti bahwa sirkulasi air membawa kista (benih) ganggang naik ke permukaan, di mana banyak terdapat nutrisi." Benih-benih ganggang biasanya mengendap di dasar laut, menunggu kondisi yang memungkinkan untuk tumbuh.


Dr. Anbiah Rajan, peneliti kehidupan laut dari Dinas Lingkungan Hidup Abu Dhabi, mengatakan belum bisa memberi komentar atas temuan Dr. Hamza, hingga dipublikasikan di jurnal ilmiah. Tapi ia menegaskan, berdasarkan penelitiannya sendiri, memang tampak ada hubungan antara badai debu dengan melimpahnya Cyanobacteria, atau yang lebih dikenal dengan ganggang biru-hijau.


Sungguh tidak ada yang sia-sia dari ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Angin yang seringkali dianggap manusia sebagai pembawa bencana, pasir yang kerap membuat mata perih, ternyata menjaga kelangsungan hidup manusia itu sendiri

Sumber : Persis.or.id

Monday, 5 July 2010

Pengetahuan sidik jari dalam Al Quran

Di sisi lain yang tak kalah penting dari berita yang disebutkan Alquran ialah tahap-tahap pembentukan manusia dalam kandungan ibunya. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam kandungan ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, selanjutnya otot terbentuk membungkus tulang-tulang ini.

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Lalu Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (Surat al-Muminun: 14)

Embryology adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari pembentukan embrio dalam kandungan ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam suatu embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, untuk jangka waktu yang lama, banyak orang mengklaim bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang diselenggarakan dengan keunggulan perkembangan teknologi baru telah menyatakan bahwa pernyataan dalam Alquran kata per kata adalah benar. Pengujian dalam skala mikroskopis ini menunjukkan bahwa pembentukan yang terjadi dalam kandungan ibu terjadi dengan cara seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut.

Pertama kali, jaringan tulang rawan dari embrio terbentuk. Kemudian sel-sel otot yang terpilih diantara jaringan yang mengelilingi tulang-tulang terbentuk dan membungkus tulang-tulang ini. Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah publikasi ilmiah dengan kalimat sebagai berikut:

Selama tujuh minggu, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuk sebagaimana umumnya. Pada akhir minggu ke tujuh dan selama minggu ke delapan otot menempati posisisnya menyelimuti bentuk tulang.

Singkatnya, tahap-tahap pembentukan manusia sebagaimana digambarkan dalam Alquraan sesungguhnya selaras dengan penemuan ilmu embriologi modern.

Dalam Quran pun disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam tiga tahap dalam kandungan ibunya. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Alloh, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?(Surat az-Zumar : 6).

Agar lebih dipahami, ditunjukkan dalam ayat ini, seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam 3 tahapan yang jelas. Sesungguhnya, ilmu biologi modern telah menyatakan bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam kandungan ibu.

Risalah Quran itu kini menjadi ilmu dasar pada semua textbook embriologi yang dipelajari dalam bidang pengobatan. Sebagai contoh, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi pokok dalam bidang embryology, fakta ini dibeberkan sebagai berikut: ''kehidupan dalam uterus memiliki tiga tahapan: pre-embrio; dua setengah minggu pertama, embryonic; sampai pada minggu ke delapan, dan fetal; dari minggu ke delapan sampai lahir.''

Di sisi lain, Quran pun menyebutkan Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematian, melalui adanya sidik jari manusia secara khusus dititikberatkan/ditekankan: Sebenarnya, Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna (Surat al-Qiyama : 3-4)

Penekanan pada sidik jari memiliki makna khusus. Hal ini dikarenakan sidik jari setiap orang bersifat unik bagi dirinya. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik. Itulah mengapa sidik jari dianggap sebagai tanda yang sangat penting pada kartu identitas bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, yang penting adalah bahwa sidik jari ditemukan pada akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai benda berbentuk lengkung biasa tanpa makna khusus. Namun, dalam Alquran, Allah menunjukkan sidik jari, yang tak sedikitpun menarik perhatian orang waktu itu, yang mengundang perhatian kita betapa berartinya dia, arti yang hanya dimengerti oleh jaman sekarang ini.

Saturday, 26 June 2010

Empat kerusakan akibat dari perzinahan

Merebaknya video mesum (porno) yang kini banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan generasi muda, sungguh sangat memprihatinkan. Jika hal ini terus berlangsung tanpa kendali, maka moral bangsa akan semakin hancur dan terpuruk. Dan ini akan berakibat pada kehidupan lain secara lebih luas. Ekonomi akan terganggu, pendidikan terguncang, politik jadi tidak bermoral, budaya dan tradisi bangsa tercampakkan, serta nilai-nilai agama akan terpinggirkan.

Allah SWT mengingatkan bahwa perbuatan zina itu adalah fahisyah (kejahatan yang menjijikkan) dan saa'a sabila (seburuk-buruknya jalan). "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya, zina itu adalah perbuatan yang keji, dan jalan yang buruk." (QS Al-Isra [17]: 32). Mendekati zina saja sudah dilarang, apalagi melakukannya.

Rasulullah SAW juga bersabda, "Hendaknya kalian menjauhi perbuatan zina, karena akan mengakibatkan empat hal yang merusak, yaitu menghilangkan kewibawaan dan keceriaan wajah, memutuskan rezeki (mengakibatkan kefakiran), mengundang kutukan Allah, dan menyebabkan kekal dalam neraka." (HR Thabrani dari Ibn Abbas).

Hadis ini sekaligus membantah pernyataan banyak orang yang sering menyatakan bahwa salah satu penyebab perbuatan zina adalah karena faktor ekonomi atau kemiskinan. Justru perbuatan zina itulah yang akan menjerumuskan pelakunya pada jurang kemiskinan. Dan jika pun terlihat memiliki harta, itu hanya bersifat semu dan sementara. Yang pasti ujungnya akan habis tak berbekas.

Karena buruknya perbuatan zina ini, maka salah satu tanda perilaku orang-orang yang termasuk 'ibadurrahman adalah meninggalkan perbuatan tersebut. Sebab, mereka yang melakukannya, akan mendapatkan azab Allah, dan mereka akan kekal di dalam neraka dalam keadaan terhina. (QS Al-Furqan [25]: 68-71).

Karena itu, agar perbuatan zina ini tidak berlangsung, baik secara terang-terangan maupun terselubung, semua komponen bangsa harus memiliki komitmen dan kepedulian kuat untuk menghindari dan menjauhkannya.

Nilai-nilai agama harus terinternalisasi secara konsisten pada pikiran, jiwa, maupun perilaku masyarakat dan bangsa. Kepada para pelaku perzinaan harus dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya agar dapat menyebabkan efek jera pada yang lain. Wallahu a'lam.

Friday, 25 June 2010

Aib kita adalah cermin diri kita juga

Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga dari Hâtim Al Asham ketika fenomena tayangan “ghibahtainmen” merajalela

oleh: Ali Akbar bin Agil*

ADA seorang perempuan datang kepada Syaikh Hâtim Al Asham untuk bertanya tentang sebuah persoalan. Saat bertanya, tiba-tiba keluarlah suara kentut dari perempuan itu dan ia merasa sangat malu.

“Keraskan suaramu!,” teriak Hâtim dengan keras untuk mengesankan seolah ia tuli.

Si perempuan merasa senang dan mengira kalau Hâtim tidak mendengar suara kentutnya. Karena kejadian itulah, kemudian Syaikh Hâtim mendapat julukan Al Asham (si tuli).

Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga dari Hâtim Al Asham. Kita memperoleh hikmah menutup rapat-rapat keburukan orang lain, tidak mengumbarnya sebagaimana terjadi saat ini, di mana fenomena tayangan ghibahtainmen yang menceritakan kekisruhan rumah tangga orang lain, membeberkan perselingkuhan serta perzinaan, terjadi dengan begitu vulgar dan massif.

Ironisnya, para pemilik modal dan pengelola program tercela ini berkilah jika acara (ghibah) ini dianggap mendidik masyarakat untuk lebih cerdas.

Sebuah alasan yang tidak masuk akal. Alih-alih mencegah, yang terjadi justru masyarakat dijejali oleh berita-berita keburukan orang yang mungkin akan dicontoh oleh mereka. Apalagi pihak bersangkutan yang diwartakan merupakan public figuree.

Tidak berlebihan bila PBNU lewat fatwanya dalam Munas Alim Ulama NU se-Indonesia di asrama Haji Sukolilo, Surabaya (27-30 Juli 2006), menuntut kepada pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informasi, untuk melarang program infotainment yang berisi ghibah alias membeberkan aib orang lain, apakah itu berupa perselingkuhan, perceraian, atau percekcokan rumah tangga, dan sejenisnya.

Fatwa ini perlu direkomendasikan sebagai bentuk pertanggungjawaban para ulama kepada umatnya. Sebab jika keadaan demikian ini dibiarkan begitu saja, lama-lama akan membuat bangsa kita menjadi bangsa penggunjing. Akibatnya, ajang berkumpul sesama teman atau keluarga rasanya kurang afdhal bila tidak dibumbui dengan ngerasani (menggunjing) atau menggosip. Sungguh sebuah dilema yang berbalik seratus delapan puluh derajat dengan apa yang terjadi pada diri Syekh Hatim.

Lantas, bagaimana kita bisa mengetahui aib diri sendiri? Imam Al Ghazali dalam kitabnya yang terkenal, Ihya` `Ulumuddin, mengetengahkan kiat jitu menyingkap kekurangan yang melekat pada diri kita. Beliau menyarankan untuk menempuh empat cara:

Pertama, duduk di hadapan seorang guru yang mampu mengetahui keburukan hati dan berbagai masalah yang tersembunyi di dalamnya. Kemudian ia memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam ber-mujahadah membersihkan aib itu. Ini adalah keadaan seorang murid dengan Syaikhnya dan seorang pelajar dengan gurunya. Sang guru akan menunjukkan aib-aibnya serta cara pengobatannya. Namun, di zaman sekarang guru semacam ini langkah.

Kedua, mencari seorang teman yang jujur, memiliki bashiroh (mata hati yang tajam), dan berpegang pada agama. Ia kemudian menjadikan temannya itu sebagai pengawas yang mengamati keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan lahirnya, sehingga ia dapat memberi peringatan kepadanya. Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang cerdik, orang-orang terkemuka, dan para pemimpin agama.

Ketiga, berusaha mengetahui aib dari ucapan musuh-musuhnya sebab pandangan yang penuh kebencian akan menyingkapkan keburukan seseorang. Bisa jadi manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang sangat membencinya dan suka mencari kesalahannya lebih banyak dari teman yang suka bermanis muka, memuji dan menyembunyikan aib-aibnya. Akan tetapi, sudah menjadi watak manusia untuk mendustakan ucapan musuh-musuhnya dan menganggapnya sebagai ungkapan kedengkian. Hanya orang yang memiliki mata hati jernih yang mampu memetik pelajaran dari keburukan dirinya yang disebutkan oleh musuhnya.

Keempat, bergaul dengan masyarakat. Setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, maka ia segera menuduh dirinya sendiri yang juga memiliki sifat tercela itu. Kemudian ia menuntut dirinya untuk segera meninggalkannya. Sebab, seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain ia akan melihat aib-aibnya sendiri. [*penulis mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Maliki Malang]

Sumber : Persis67Benda